Sandra dan Tukang Kebun

tukang kebung - cerdes
Namaku sandra, aku tinggal bersama kedua orangtuaku di sebuah kompleks perumahan elite. Kulitku putih mulus, aku anak yang sangat terawat. Aku anak tunggal kesayangan dan pergaulanku selalu dibatasi oleh kedua orangtuaku.

Pengetahuanku mengenai kehidupan sangat sedikit, apalagi mengenai sex, bisa dibilang nol besar. Sampai umur seginipun aku tak pernah tahu apa itu sex, kehamilan, penis anak laki, ciuman, dll. Selebihnya bayangin aja sendiri betapa “kuper”nya aku ini.

Dirumahku yang lumayan besar itu, hanya ada aku dan pembantu-pembantu ku. Yang 2 orang adalah pembantu rumah tangga, yang satu bi yem, orangnya udah tua banget, sedang satunya adalah cucunya yang berumur 1 tahun dibawah umurku, 13 thn, panggilannya no, adalah kacungku. Seorang lagi adalah tukang kebunku yang sudah tua, pak mat, umurnya sudah sekitar 65 tahun, dan seorang lagi sopir papaku, namanya bang jun, umurnya sekitar 30 tahunan. Itulah isi rumahku saat orangtuaku tidak dirumah. 

Pada suatu hari, aku pulang dari sekolah, kedua orangtuaku udah bepergian keluar negeri lagi untuk waktu yang tidak tentu. Sopirku minta ijin untuk pulang karena ada suatu urusan, bi yem sepagian pergi dengan cucunya untuk menengok saudaranya di tangerang selama 1 hari. Jadilah aku dan pak mat berdua aja. 

Selesai makan siang, aku duduk-duduk di halaman belakangku yang luas. Disana pak mat sedang menyirami kebun. Iseng-iseng aku jalan-jalan didekat pak mat, dan kugoda dia dengan menginjak selang airnya. Bingung karena air tidak keluar, dia lihat kebelakang da ketahuan bahwa selang airnya sedang ku injak, setelah injakkan kulepas, pak mat mengarahkan air yang telah menyembur tadi ke arahku sambil ketawa-tawa. 

Tapi apa yang terjadi, air membasahi tubuh dan kausku, pada saat itu aku hanya mengenakan kaus panjang sebatas atas lutut, tanpa mengenakan bh, hanya celana dalam aja. Kontan, bentuk tubuhku terlihat jelas dari balik kausku tsb. Buah dadaku yang cukup besar untuk ukuran tubuh dan umurku itu terlihat jelas sekali menantang, bayangkan, 32b dengan tinggiku yang hanya 147cm dan agak ceking, maklum, bagaimana sih tubuh anak perempuan yang masih smp. 

Tubuhku yang masih sangat muda dan ranum belum tersentuh itu, dipandangi oleh pak mat dengan melongo. Entah gimana mulanya, tahu-tahu pak mat telah mendekati ku dan meremas buah dadaku, aku hanya bisa diam dan bengong krn aku tidak pernah diperlakukan seperti itu sebelumnya. Pak mat adalah tukang kebun keluarga kami yang telah lama ikut keluargaku, bisa dibilang, dia sudah ada sejak aku masih bayi. Jadi, keluarga kami sangat mem-percayainya.

“Non, susu non besar juga yah..., enak nggak diginiin?” kata pak Mat sambil terus meremas susuku. 
Aku yang belum mengerti apa yang sedang dilakukannya menjawab 
“agak geli pak, tapi koq enak ya... Pak mat sedang mijitin aku yahh?” Tanyaku manja. 
“iya. Kan dari kecil pak mat yang ngerawat kamu. Mau nggak pa mat ajarin sesuatu?” Tanyanya. 
“ajarin apa sih, pak?” Tanyaku polos. 
“setiap anak yang mau dewasa harus diajarin ini supaya nanti nggak malu ama temen-temen kamu, mau nggak?” Desaknya. 
“iya deh” sahutku. 

Tanpa banyak bicara lagi, pak mat mengajakku ke biliknya di ujung halaman belakang rumahku yang besar itu. Memang bilik untuk pegawai kami ada diujung belakang rumahku. Setelah masuk kebiliknya, dia tutup pintunya lalu dikuncinya dari dalam.

“non tahu apa itu penis?” Pancingnya. 
“apa sih penis itu, pak mat. Koq aku nggak pernah dengar sih?” Tanyaku dengan wajah serius. 
Setelah itu dia melepas seluruh pakaian dan celananya sampai telanjang bulat. 

Aku yang masih polos itu diam aja sambil memperhatikan dengan seksama, aku sama sekali tidak mengerti bahwa aku akan mendapat pengalaman yang tak terlupakan sampai sekarang. Setelah telanjang, dia menggenggam penisnya dan menunjukkan padaku.

“nah, ini adalah penis, non. Semua anak yang mau dewasa harus tahu ini. Bukan hanya tahu tapi juga harus merasakannya. Coba non pegang, nanti aku ajarkan lagi” ujarnya sambil gemetar menahan nafsu. 
Aku coba pegang penisnya yang besar itu, ya ampun aku hampir tak dapat memegangnya dengan kedua tanganku. 
“sekarang coba kocokkan seperti ini” sambil memberi contoh.
Aku laksanakan perintahnya, kukocok penisnya dengan gemas, habis makin lama makin besar dan panjang sih. 
“nah, non pernah ngemut permen kan? Coba sekarang kau lakukan seperti itu pada penisku” nadanya semakin bergetar. 

Dia berdiri disamping tempat tidurnya dan aku duduk disamping tempat tidurnya sambil membimbing penis yang ada di genggamanku ke arah mulut ku yang mungil dan merah itu. Aku masukkan kedalam mulutku dengan susah payah, besar sekali pikirku. Jadi kujilati dulu kepala penisnya dengan seksama. Pak mat mendesah-desah sambil mendongakkan kepalanya.

“kenapa pak, sakit ya, maafkan aku pak.” tanyaku
“ah nggak koq, malah enak sekali lho, terusin, terusin, jangan berhenti, nanti kalo kau masukkan kedalam mulutmu, penis ku jangan terkena gigimu yah, terusin” ujarnya sambil merem melek kenikmatan.

Aku teruskan aksiku, aku jilatin penisnya mulai dari kepala penisnya sampai ke pangkal batang, aku terusin ke buah pelirnya, semua aku jilatin seperti aku jilatin permen kesukaan ku, sekarang aku coba untuk memasukkan kedalam mulutku lagi, udah bisa masuk, udah licin terkena ludahku, aku mulai menyukai ajarannya. 

Pak mat memegangi kepalaku dengan satu tangannya sambil memaju-mundurkan pantatnya. Sedang tangan satunya lagi meremas susuku sebelah kanan. Gerakannya semakin lama semain cepat, akhirnya dia berkata 
“aduh non, sebentar lagi aku mau keluarin pejuh ku, nanti kau rasakan gimana rasanya yah. Setelah itu harus kau telan” perintahnya.

Tapi belum lama dia berkata itu, aku merasakan suatu cairan keluar dari penisnya, rasanya aneh, kurasakan sekali lagi lalu kutelan dengan 2 kali telan karena pejuhnya ternyata banyak sekali. Pada saat pejuhnya keluar, terdengar suara pak mat menggeram keras dan panjang. 
“ nnnnggghhh.......ggnnnnnhh....hhhkkkkhh...”

“aduh non, enak sekali mulutmu itu. Penis pak mat enak nggak?” Tanyanya dengan terputus-putus kepuasan. “mmmhh, enak pak. Pejuh nya juga enak, aku nggak pernah makan seperti ini, ada lagi nggak pak?” Tanyaku kurang puas. 
“sebentar lagi non akan merasakan yag lebih enak dari tadi, mau nggak?” Tanyanya sambil melepasi kaus dan celana dalamku. 

Setelah aku telanjang, dia tidurkan aku diatas ranjangnya, sambil susuku diremasnya terus. Dia jilati seluruh tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dijilatinya pula seluruh bongkah susuku, disedotnya pentilku sampai aku gemetar. Kakiku dan kedua pahaku yang mulus itu dibukanya sambil dielus-elus dengan satu tangan masih di susuku.

Setelah itu vaginaku dijilatin dengan lidahnya. Wuihh rasanya nggak keruan, geli banget deh, rasanya pengen pipis. Bukan hanya bibir vaginaku aja yang dijilatinnya, tapi lidahnya juga masuk kelubang vaginaku, aku jadi menggelinjang-gelinjang nggak terkontrol, wajahku merah sekali sambil terdongak keatas. 

Sementara itu diapun naik ke atas ranjang sambil mengarahkan penisnya ke wajahku, aku tahu apa yang diinginkannya, ku pegang penisnya yang sudah agak mengecil. Kusedot lagi penisnya, masih ada sisa pejuhnya diujung kepala penisnya, kujilatin. Jadi posisi ku ada dibawahnya sambil menjilati penisnya, dia ada diatas ku sambil memasukkan lidahnya kelubang vaginaku. 

Setelah penisnya sudah keras dan panjang lagi, dan vaginaku sudah banjir dengan ludahnya, dia cabut penisnya dari mulutku. Dia berbalik posisi, sekarang wajahnya diatas wajahku, dan penisnya mengarah ke vaginaku.
“non akan merasakan sakit sedikit, tapi setelah itu non akan merasakan kenikmatan yang luar biasa. Non kuat menahan sakit kan?” kata pak mat
Aku merasa tertantang dan menjawab singkat 
“kuat pak”. 

Setelah itu dia mulai memasukkan penisnya yang besar dan panjang itu ke lubang vaginaku. Pantatnya semakin didorong dan didorong, sampai aku merem menahan sakit dan perih di vaginaku. Setelah itu dia gerakkan penisnya keluar dan masuk divaginaku yang masih sempit itu.

“wuah, non, sempit betul vaginamu, sampai sakit penisku dibuatnya, ini memang rejekiku, dapat vagina gadis sekecil dirimu, tak pernah terbayang dibenakku aku akan menikmati tubuhmu, keperawananmu, vaginamu yang sempit ini, ternyata bersetubuh dengan anak juragan lebih enak dari segalanya. Ooohhhh....mmhhh...aaahhh....” Pak mat menggumam tak keruan. 

Aku mulai merasakan nikmat yang tak terkatakan, luar biasa enak sekali rasanya. Secara naluri aku gerakkan pantatku ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerakan penisnya yang keluar masuk, wuihh tambah nikmat. Kulihat wajah pak mat yang sudah tua dan kempot itu serasa menikmati sekali gesekkan penisnya dilubang vaginaku itu.

Apabila ada yang melihat kejadian itu, pasti mereka bakal mengira bahwa aku sedang diperkosa oleh orang tua itu, karena kalau dilihat fisiknya, aku lebih cocok jadi cucunya, umurnya udah 65thn, sedang umurku baru 14thn, wajahnya dan tubuhnya udah keriput dan kempot, kulitnya kasar dan hitam. Sedang tubuhku yang masih muda ini, putih bak pualam, karena aku seorang putri seorang boss, terawat bersih, kulitku mulus, wajah ku yang imut ini cantik seperti anak orang jepang. 

Sungguh perpaduan yang sangat berbeda, tapi bila dilihat lebih dekat, ternyata si orang tua itu tidak memperkosaku, tubuhnya bergoyang-goyang maju mundur, kepalanya memperhatikan penisnya sendiri yang sedang keluar masuk dilubang vagina seorang anak kecil baru berusia 14 thn, anak juragannya sendiri, rupanya dia tidak habis pikir bagaimana untung nasibnya mendapat kesempatan mencicipi tubuh anak juragannya yang masih perawan itu. 

Selang beberapa saat, pak mat mengajak ganti posisi, aku pasrah aja. Aku disuruhnya nungging seperti anjing, dan dia menyodokkan penisnya dari arah belakang ke vagina ku. Nikmat sekali permainan ini pikirku. 
“ennngghh... Mmhh.. Mmmhh...” Desahnya tak keruan.

Belakangan aku baru tahu bahwa pak mat telah menduda selama 7 tahun ditinggal istrinya meninggal. Pantas saja dia melampiaskan nafsunya padaku, yang cocoknya jadi cucunya itu. Sambil menggoyang pantatnya maju mundur, dia memegangi pinggulku dengan erat, kalian pasti tidak tahu bagaimana enaknya rasaku pada saat itu. 

Selama tubuhku dinikmatinya, aku telah mencapai puncak sampai 4 kali, sampai lemas tubuhku dibuatnya. Tapi pak mat tidak mau tahu, dia tetap menggarap tubuhku dengan nikmat. Tidak kurang dari 15 menit di genjot tubuhku dari belakang seperti itu, setelah itu dia cepat-cepat lepas penisnya dari vaginaku dan memasukkan kemulutku sambil mengerang keras. Aku tahu apa yang diinginkannya, aku sedot keras penisnya, pejuhnya muncrat didalam mulutku berulang-ulang, banyak sekali.

“crottt, croooth.., crooootttthh...” Hampir penuh oleh pejunya mulutku dibuatnya. 
Aku sedot lagi sampai habis, wah enak sekali, aku makin terbiasa makan pejuhnya, dan rasanya tambah terasa nikmat. Terutama aku sangat suka melihat reaksi nya saat pejuhnya keluar. Aku merasa vaginaku agak membengkak akibat disodok oleh penis pak mat yang besar itu. 

Setelah istirahat beberapa menit, dia bertanya padaku 
“gimana non? Enak kan?”, 
“enak sekali pak, rasanya nikmat sekali, tak dapat dilukiskan dengan kata-kata” sahutku. 
“kapan-kapan ajarkan aku lagi ya, pak? Boleh kan?” Tanyaku polos, pak mat terkejut 
“wah, non pengen lagi yah? Boleh, boleh, kapan saja non mau, panggil saja pak mat. Tapi non jangan bilang siapa-siapa ya. Nanti aku tak bisa mengajarkan non yang lain lho.” 
Dalam hati pak mat berpikir, wah, lumayan juga kalo aku bisa menikmati tubuhnya setiap hari, aku bisa jadi muda lagi, nih. 

Setelah kejadian hari itu, aku sering di setubuhi pak mat, dimana saja, di kamarnya, dikamarku sendiri, diruang tamu, digudang, di dapur, bahkan di kamar mandi sekalipun, pokoknya dimana saja dan dimana ada kesempatan, pak mat tidak menyia-nyiakan tubuhku yang mungil itu. Dan aku semakin lama semakin ketagihan penisnya. Akhir-akhir ini aku baru sadar bahwa aku telah menyerahkan keperawananku, tubuhku dan segalanya kepada tukang kebunku sendiri. Apalagi orangnya udah tua agak peyot, tapi penisnya masih boleh juga. 

Sejak saat itu, aku jadi ketagihan dan ingin merasakan penis-penis orang lain, tidak pandang bulu. Aku bahkan lebih terangsang dengan orang dari kalangan yang bukan orang berada. Entah kenapa aku lebih suka memberikan tubuhku yang masih muda dan mungil ini untuk dinikmati mereka, rasanya ada sesuatu didalam tubuhku yang membuatku lebih terangsang.

Tamat

0 Response to "Sandra dan Tukang Kebun"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.