Tragedi Saat Hamil

Namaku Ratih, umurku 18 tahun. Aku tidak begitu tinggi dan cukup langsing. Menurut orang-orang sekitarku aku memiliki paras yang cantik dan menarik, selain itu dadaku cukup padat dan montok.

Setahun yang lalu aku menikah dengan Deden, seorang buruh tani. Meski demikian, aku menyayangi Deden apa adanya. Untuk dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, aku bekerja sebagai penjual jamu gendong keliling, di desa tempat tinggalku.

Aku tidak sampai hati memaksa Deden untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarga seorang diri, sehingga hari aku bekerja tanpa mengenal lelah, semua ini demi keadaan yang lebih baik.

Saat ini aku sudah hamil 4 bulan, perutku sudah mulai membesar meski belum begitu terlihat. Deden pun semakin perhatian. Aku senang, meski begitu aku tetap menyuruh Deden bekerja tepat waktu karena aku tidak mau upahnya dipotong hanya karena terlambat.

Kami berdua sangat rukun meski keadaan ekonomi kami cukup sulit. Seperti biasa, pagi-pagi aku berangkat menjajakan jamuku. Semua tersusun rapi di dalam keranjang gendong di punggungku. Sebelumnya aku siap-siap dahulu dengan mengenakan kaos dan rok selutut. Aku gendong keranjang berisi bermacam-macam jamu, aku kaitkan dengan selendang dengan tumpuan diantara payudaraku. Sehingga dadaku nampak menonjol sekali, sedikit membusung hingga mencetak dengan jelas kedua dadaku.

Aku segera berangkat berkeliling menjajakan jamu. Setiap hari rute perjalananku tidaklah sama, aku selalu mencari jalan baru sehingga orang-orang tidak akan bosan dengan jamu buatanku. Karena setiap hari aku bertemu dengan orang yang berbeda. Kali ini aku berjalan melewati bagian selatan desaku.
“Jamu, Jamuuu.” Begitu teriakku setiap kali aku melewati rumah penduduk.

Siang itu begitu terik, tapi aku tak peduli, toh penjualan hari ini cukup lumayan. Paling tidak sudah balik modal. Aku melangkah menyisir hamparan sawah. Melewati sebuah gubuk dimana para buruh tani sedang beristirahat. Belum sempat aku menawarkan jamu, mereka sudah memanggil.
”Mbak, mbakk, jualan apa mbak?” tanya salah seorang dari mereka.
“Saya jualan jamu mas.” Jawabku sambil menunjukkan isi keranjangku.
”Ohh, kalau begitu saya minta beras kencurnya satu mbak.” kata salah seorang dari mereka.
Segera kuturunkan keranjang bawaanku dan memberikan pesanannya. Mereka bertiga, salah satu dari mereka sepertinya masih smp.

Aku duduk di pinggir gubuk tersebut. Sembari beristirahat dari teriknya siang hari. Mereka mengajakku berkenalan dan mengobrol sembari meminum jamu buatanku.
“Wahh, sudah berapa lama mbak jualan jamu?” Tanya Aji yang memiliki tubuh kekar dan hitam.
“Kurang lebih setahun mas, ya sedikit-sedikit buat bantu orang tua.” jawabku sekenanya.
“Wah sama dengan Dewo, dia juga rajin membantu orang tua.” Potong Abdul
“Yaa, mau gimana lagi mas, kalau nggak begini nanti nggak bisa makan.” Jawabku lagi.
“Mbak tinggal di desa seberang ya?” tanya dewo.
“Iya mas, tiap hari saya berkeliling desa jualan jamu.”
“Ooo, pantas kok saya belum pernah liat mbak.” Jawab Dewo.

Lama kami mengobrol ternyata Aji dan Abdul berumur sekitar 20-an tahun, sedangkan Dewo masih 14-an tahun. Obrolan kami semakin lama hingga membuatku lupa waktu.
“Wah, mbak kalo jamu kuda liar ada nggak ya?” Tanya Aji.
“Wahh, mas ni ngaco, ya ndak ada to mas, adanya juga jamu pegel linu.” Jawabku.
“Waduhh, kok nggak ada mbak? Padahal kan asik klo ada.” Jawab Abdul sambil terkekeh-kekeh.
“Asik kenapa to mas?” Tanyaku heran.
“Ya supaya saya jadi liar kayak kuda to mbak.” Jawab aji sembari duduk di sampingku.
Posisiku kini ada diantara Aji dan Abdul, sedangkan Dewo ada dibelakangku. Rupanya Dewo diam-diam memperhatikan tubuhku dari belakang, memang BH ku saat itu terlihat karena kaosku yang sedikit basah oleh keringat dan celana dalamku yang sedikit mengecap karena posisi dudukku di pinggir gubuk.

“Wah panasnya hari ini, bikin tambah lelah saja.” Abdul berkata sambil tiduran di lantai gubuk itu.
Saat itu Panas semakin terik, sedangkan di gubuk sangat nyaman dengan angin yang semilir, tidak terasa aku pun mulai mengantuk. Mungkin karena tadi aku bangun pagi sekali. Aji pun bersandaran pada tiang kayu di sudut gubuk. Dewo juga sama seperti Abdul, tiduran di lantai. Aku mengeluh karena panas tak juga usai. Apalagi mengingat kondisiku yang sedang hamil aku takut terjadi sesuatu dengan janinku.
”Wah, kok ngelamun aja mbak? Cantik-cantik kok suka ngelamun?” Kata Abdul mengagetkanku.
”A..anu mas saya cuma mikir kok panasnya tidak kunjung reda.” Jawabku.
”Memangnya kenapa to mbak…tinggal ditunggu aja kok nanti juga tidak terik lagi.” Kata dewo.
“Ya gimana mas, kalau terus seperti ini nanti daganganku tidak laku, aku bisa rugi mas.” Jawabku.
“Sudah mbak, tenang saja, kalau rezeki nggak akan kemana kok.” Hibur mas Aji.

Tidak terasa aku semakin mengantuk. Semilir angin membantuku memejamkan mata. Cukup lama aku ketiduran, hingga aku terbangun karena ada sesuatu yang menyentuh pantatku.
“Aaw apa-apaan ini!!?” Aku terbangun dan kaget ketika Abdul menciumi leherku, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul.
Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada dua gunung milikku. Aku semakin meronta.
“Sudah diam! Nanti aku beli semua jamumu dan sebagai bonusnya aku minta jamu milikmu yang indah itu.” Kata Aji sambil meremas payudaraku dan tertawa cenge-ngesan.

Aku meronta-ronta minta tolong dan mencoba untuk melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku.
”Ampunn mass, saya sudah menikah, nanti suamiku bisa menceraikanku.” Aku memelas.
”Oh, ternyata kamu sudah tidak perawan toh, tapi tubuhmu masih sempurna.” Bisik Abdul
Dalam hati aku berpikir, bagaimana dengan Deden, aku takut, bagaimana dengan janinku, bagaimana kalau aku diperkosa. Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiranku saat itu.
“Jangann mass, jangan, aku sedang haid.” Aku mencoba untuk mengelabui mereka.

Setelah itu mereka bertiga berhenti menggerayangiku dan saling memandang satu sama lain.
“Yang bener kamu sedang Haid? Wah Sial bener aku hari ini!” Jawab Abdul kesal.
“Iya mas, sedang banyak-banyaknya, tolong biarkan aku pergi.” Aku memohon lagi.
“Ya..sudahlah, mungkin kita sedang apes.” Kata Aji.

Namun Dewo tidak memperdulikan ucapanku, dia cukup senang meremas pantatku.
“Sudah wo, dia lagi haid, kamu mau apa kena darah?” Kata Aji pada Dewo.
Dewo tetap tidak menghiraukannya. Justru ia semakin kencang meremas pantatku dan semakin kebawah menuju selangkanganku. Posisiku yang sambil tiduran membuat rok ku sedikit terangkat hingga celana dalamku terlihat. Dewo yang saat itu sedang meraba-raba pantatku rupanya tidak menyia-nyiakan hal ini, dibukanya rokku semakin keatas.
“Mana? Tidak ada darah kok.” Kata Dewo.

Sontak ucapan dewo mendapat perhatian dari Aji dan Abdul.
“Mana woo, jangan bohong kamu.” Kata mereka serempak.
Kemudian Aji mengangkat rok dan menyentuh celana dalamku.
“Kamu bohong!” dan Plakkk! Sebuah tamparan tepat mengenai wajahku.
“Ampun mas, Aku sedang hamil mas.” Aku semakin memelas dan ketakutan.
“Ahh, mau pake alasan apa lagi kamu!” Abdul membentakku dan merobek bajuku, hingga aku hanya mengenakan BH warna hitam dan rok putih selutut.

Dewo dengan cepat membuka baju dan celana pendeknya hingga hanya tersisa celana dalam warna coklat. Aku tersentak dan kaget, kulihat batang Dewo sudah membesar hingga sedikit mencuat ke atas celana dalamnya. Aku merangkak menuju sudut ruangan itu, aku menggedor-gedornya dengan harapan ada seseorang yang mendengar.

“Mau kemana kamu hah...disini tidak ada orang lain kecuali kami bertiga hahaha.” kata Aji.
“Mass ampunn, aku sedang hamil.” Tubuhku merinding dan sesekali aku berteriak minta tolong.
“Wahaha, aku sudah tidak percaya lagi dengan ucapanmu!” Kata abdul sambil mendekatiku.
Diraihnya kedua tanganku dan Srakk, Abdul merobek rok ku dan melemparnya ke arah Dewo.
“Itu wo, buat kenang-kenangan.” Kata abdul.
“Haha, iya mas, nanti aku pajang di rumah.” Kata dewo cengar-cengir.

Kini tubuhku sudah setengah bugil. Tanganku secara naluri menutup dada dan selangkanganku. 
“Wah bener-bener, ini namanya rejeki nomplok.” Abdul menciumi leherku yang putih, dibuatnya tubuhku merinding dan aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku menghindari jilatan liar lidah Abdul. Ciuman Abdul semakin turun mengarah pada gunungku. Aku tak dapat mengelak, tanganku di pegang Abdul. Abdul semakin liar menjilati dadaku yang masih terbungkus BH.
“Ampun mas, tolong nghh.” kelakuan Abdul membuat birahiku naik dan tubuhku menjadi lemas.

Dengan sedikit dorongan, Abdul menjatuhkanku di tengah ruangan dan kait BH ku terlepas. Aku sudah tidak bisa lari dari mereka, kini yang ada di dalam pikiranku hanya janin di dalam perutku, aku menyadari semakin aku melawan maka mereka juga akan semakin kasar terhadapku. Aku terdiam, tak melakukan perlawanan, bahkan berteriak pun tidak. Air mata mulai menetes membasahi pipiku. Isak tangisku beradu dengan tawa dari mereka bertiga. Tubuhku lemas, antara takut dan pasrah menjadi satu.

Lalu Abdul membalikkan badanku hingga terlentang memperlihatkan Paha dan Payudaraku yang sudah terbuka. Mereka bertiga berdiri diatasku sambil cengengesan, rupanya Aji juga sudah melepas celananya diikuti dengan Abdul. Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Dewo yang sudah siap dari tadi telungkup dari atasku, tangannya mulai bermain di telingaku sedangkan kepalanya terus memburu bibirku. Dewo menciumku dengan ganas, aku hampir tidak bisa bernapas dibuatnya.

Tidak berapa lama Aji sudah berada di paha bagian kananku. Ia sudah telanjang, kini ia menindih pahaku diantara selangkangannya, hingga dapat kurasakan penisnya yang besar menggesek-gesek pahaku. Tangan Aji mulai bermain di dadaku, sambil sesekali ia menjilat bagian perutku. Sambil tetap berciuman desahanku tak henti-hentinya keluar. Kuakui meski dari rohani aku menolak, tapi tubuhku tidak dapat menolaknya dan aku rasakan lubangku mulai basah oleh lendirku.

Aji dan Dewo segera menyingkir dari tubuhku. Bak seorang raja, Abdul menindihku, dan kini penisnya yang sudah tidak dilapisi apapun tepat berada ditengah-tengah selangkanganku.
“Gimana nona manis, sepertinya kamu juga keenakan ya?” Kata Abdul di depan mukaku.
“Yang tadi itu belum pemanasan, baru tahap uji coba.” Ia semakin mendekat di wajahku.
Seketika itu agus melepas BH ku, dan dengan liar putingku dimainkan.
“nggg ahhh, aah” nafasku semakin tidak teratur.

Dewo yang tidak bisa diam, meraih tanganku dan mengarahkan ke penisnya, menyuruhku untuk mengocok-ocoknya. Aji pun tidak mau kalah, dari sisi yang lain ia memintaku untuk melakukan hal yang sama. Wajah Abdul menghilang dari hadapanku, rupanya ia turun dan kini ia tepat berada di atas daerah kemaluanku, Segera ia melepas celana dalamku. Disibakkannya rambut kemaluanku dengan lidahnya. Kemudian Abdul mulai menjilati vaginaku dan sesekali menghisap klitorisku.

“Ahhh mass.” Aku mengerang keenakan.
Aku benar-benar serasa melayang, dihadapanku kini ada 3 orang yang secara beringas memperkosaku. Aku sangat malu pada diriku, kenapa aku justru bisa menikmati keadaan ini.
“Mass, terus mass, enak.” Aku terus meracau tak karuan yang membuat mereka bertiga semakin bernafsu.
Lidah Abdul semakin liar menghisap vaginaku diiringi kocokanku pada batang Dewo dan Aji.
“Ahhhh mass. lebih cepat mass.” Aku mengerang dan ketika itu juga aku mencapai puncakku.
Cairanku membasahi wajah Abdul namun ia terus menjilatinya hingga aku menggelinjang.

Kini Abdul membangunkan tubuhku, dan memintaku untuk menjilati ketiga penis mereka. Aku seperti dicekoki, didepanku kini ada 3 rudal yang siap menjejali mulutku. Tanpa menunggu lama, aku masukkan penis mereka bergantian di mulutku, sambil tanganku memainkan batang kemaluan mereka.
”Oohh.” Aji melenguh keenakan.

Sekitar 15 menit aku memainkan penis mereka sambil terus mengocoknya. Abdul yang sudah sangat terangsang mendorong tubuhku dan mulai memasukkan penisnya yang besar itu.
“Mmass.” aku menahan sakit saat penis Abdul menghujam vaginaku.
Dengan sekejap seluruh batang milik Abdul masuk kedalam liangku. Tanpa basa-basi, Abdul mulai menggerakkan penisnya maju mundur. Sedangkan Aji dan Dewo menghisap payudaraku. Aku dikeroyok oleh 3 orang. Libidoku semakin meningkat. Aku memegangi kepala Aji dan Dewo.
“Uhhh...ahh...” desahan yang terus muncul dari mulutku.

Sekitar 10 menit kami melakukan posisi ini sambil bergantian Aji dan Dewo menciumi bibirku. Abdul belum juga keluar, ia cukup kuat. Kini ia menyuruhku untuk nungging. Aku menuruti perkataannya.
“Dul, gantian aku yang naikin dia.” kata Dewo.
Tanpa basa-basi Dewo mengarahkan penisnya ke arah vaginaku. Penis Dewo tidak terlalu besar, hanya setengah milik Aji dan Abdul. Mungkin ini pertama kali baginya merasakan lubang wanita. Karena kulihat ia cukup lama sebelum seluruh batangnya masuk ke dalam vaginaku.
“Uoogghh, uenakk tenann” Kata Dewo.
Ia menggerakkan pinggulnya maju mundur. Dewo cepat beradaptasi, Meski penisnya kecil, tapi gerakkannya sangat cepat, berbeda dengan Abdul yang menikmatiku dengan pelan.

Aji pindah ke depanku dan memasukkan penisnya ke mulutku, kemudian ia memompanya beriringan dengan genjotan Dewo. Abdul yang tadi menggenjotku kini asik bermain dengan susuku. Kami terus melakukan tarian kenikmatan ini, Dewo semakin cepat menggerakkan penisnya.
”Ahhh mass, aku keluaaarr...” Aku keluar untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan Dewo, ia mengeluarkan lendirnya di dalam vaginaku, seketika itu juga ia langsung lemas.
“Wo, parah kamu, masa kamu keluarin di dalem, kan jadi kotor,” kata Aji.
“Aku saja belum sempat merasakannya sudah kotor sama lendirmu.” Tambahnya.
“Maaf mas Aji, aku kelepasan.” Ucap Dewo.

Abdul kemudian menggantikan posisi Aji dengan memasukkan penisnya ke mulutku. Sedangkan Aji kini berada tepat dibelakangku dengan posisiku yang masih tetap menungging. Lalu memasukkan batangnya.
“Masss, sakitt, aampun mas.” Aku merasa kesakitan saat penis Aji yang besar mencoba menerobos.
Dengan sekuat tenaga meski sempat beberapa kali bengkok akhirnya penis Aji masuk,
“Hmmff Sempit banget , uahh.” Ucap aji tidak kalah keenakan daripada aku.

Aji sudah mulai terbiasa, sesekali ia meludahi batangnya agar lebih mudah menggerakkan penisnya.
“Akhh..uuhh.” Aji mendesah keenakan saat ia mencapai puncak kenikmatan, lendirnya mengisi penuh lubangku hingga meleleh keluar. Tidak berapa lama Abdul yang sudah dari tadi memaju mundurkan penisnya di mulutku juga merasakan hal yang sama,
“Ouughh teleenn, semuaa.” Ia meracau sambil tangannya menekan kepalaku pada penisnya.
Seketika itu juga lendirnya menyemprot di dalam rongga mulutku dan mau tidak mau harus aku telan.

Mereka bertiga duduk di dalam ruangan sambil beristirahat karena mereka sangat lelah. Aku pun masih terbaring di lantai tanpa sehelai benangpun. Abdul mengeluarkan 2 lembar lima puluh ribuan.
“Itu untuk ongkos jamu dan tubuh kamu. Sekarang kamu pergi dari sini!” Ucapnya sedikit membentak.
“Bagaimana dengan pakaianku?” tanyaku.
“Pikir saja sendiri” Balas Abdul ketus.

Kemudian aku memakai BH dan celana dalamku. Aku gunakan selendang yang kupakai untuk mengangkat keranjang tadi, Aku lilitkan untuk menutupi tubuhku dan untunglah cukup. Aku bergegas meninggalkan mereka sambil membawa keranjangku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 4 sore. Mas Deden pasti sudah pulang ini. Ucapku dalam hati sambil mengusap air mata di pipiku.

Sesampainya di rumah, Mas Deden sudah menungguku. Aku ceritakan semua kejadian ini padanya bagaimanapun aku tetap mencoba untuk terbuka padanya karena dialah satu-satunya orang yang kumiliki. Reaksi Mas Deden sungguh membuatku kaget, Ia justru memelukku dengan erat, dan mengelus perutku memberikan kasih sayang pada si Jabang Bayi.

Aku terharu dengan Mas Deden. Meski sempat ia akan bergerak mengumpulkan warga untuk memberi pelajaran pada orang-orang yang memperkosaku, namun aku dapat meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa, dan semoga saja janinnya juga tidak terjadi apa-apa. Aku bangga dengan Mas Deden, ia tidak panik saat mendapatiku mengalami kejadian seperti ini, selamanya aku tetap mencintainya.

Setelah kejadian ini aku sudah tidak berjualan jamu lagi. Kali ini aku menjadi pendamping setia Mas Deden, dengan menemaninya pergi ke ladang setiap hari. Meski keadaan ekonomi kami semakin sulit, tapi kebahagiaan kami seolah menutup dalam-dalam semua keadaan ini dan kejadian masa lalu.

Tamat

0 Response to "Tragedi Saat Hamil"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.