3 Wanita Berjilbab

jilbab tampak belakang
Sukma. Udah lama juga sih gue perhatiin dia. Tapi gue baru kenal ama perempuan itu lewat lakinya yang seniman. Dia orangnya tidak terlalu cantik. Tapi tampangnya lembut bikin gue betah ngelihatinya. Apalagi dia enak juga diajak ngomong.

Suatu hari lakinya mendadak kaya karena ada orderan benda seni jumlah besar. Terus, dia ngontrak rumah sebelah buat Sukma sama anaknya. Rumah yang sekarang dijadiin galeri hasil karya suaminya.

Dia yang sebelumnya sering cerita kalo lakinya sibuk banget, sekarang cerita repotnya ngurus rumah dan anaknya yang umur 3 tahun sendirian. Itu sebabnya dia ngajak adiknya Susi dan ponakannya Sumi untuk tinggal serumah. Tampang dua cewek itu mirip banget sama Sukma, tapi lebih seger dan imut-imut.

Di rumah sering cuma ada tiga cewek tadi sama satu anak balita. Nafsu juga gue waktu temen gue ngasih usul yang menarik. Langsung saja gue telepon Sukma malem itu. Gue rubah suara gue biar nggak dikenal.
“Choirun ada?”
“Nggak ada, lagi mancing. Ini siapa ya?”
“Mbak Sukma sendiri ya?”
“Nggak, sama Susi dan Sumi,”
“Ya sudah, besok saja,”

Tiga temen gue langsung bersorak begitu pasti malam itu lakinya Sukma nggak di rumah. Kami berempat pun segera berjalan ke rumah dekat gerbang perumahan itu. Tiga temen gue sudah siap dengan ‘peralatan’nya, lalu mengetuk pintu.
“Siapa ya?”
“Kami dari Polres bu, ada yang ingin kami sampaikan,” sahut teman gue yang badannya memang mirip polisi.
Tak lama kemudian pintu terbuka, tiga temen gue masuk. Dari jauh gue lihat Susi dan Sumi ikut menemui mereka.
“Maaf bu, suami ibu kami tangkap satu jam lalu,”
“Lho, kenapa?” Sukma terlonjak.
“Ia kedapatan menghisap ganja…”
“Nggak mungkin!” perempuan itu memekik.
“Tapi begitulah kenyataannya. Kami juga dapat perintah menggeledah rumah ini. Ini suratnya,”

Sukma tak dapat menolak, dibiarkannya ketiga ‘polisi’ itu menggeledah rumahnya. Dasar nakal, seorang temen gue sudah menyiapkan seplastik ganja dan kemudian ia teriak,
“Ada di bawah kasur sini, komandan!” Temenku yang paling besar memandang Sukma dengan tajam.
“Sekarang kalian bertiga ikut ke kantor polisi!” tegasnya.
“Tapi…saya nggak tahu bagaimana barang itu ada di situ…” kata Sukma terbata-bata.
“Sekarang ibu bantu kami, ikut saja ke kantor polisi, juga dua adik ini,”

Akhirnya ketiga cewek itu mau juga ikut, setelah sebelumnya Sukma menitipkan anaknya ke Bu Tukiran. Temen gue pinter juga, dia pinjam mobil Sukma dengan alasan mereka cuma bawa motor. Lewat handphone, salah satu temen gue ngasih tahu.
“Beres Dan, siap cabut,” katanya.

Gue segera pakai topeng ski, ambil kunci mobil dan duduk di belakang stir. Sebelum masuk, kaget juga tiga cewek itu karena tangan mereka diborgol di belakang punggung.
“Kami nggak ingin repot nantinya,” alasan temen gue.
Hanya beberapa saat saja, mobil pun berjalan. Sukma duduk di tengah dengan satu temen gue menjaga pintu. Sedang Susi dan Sumi di belakang dijaga dua lagi temen gue.

Baru jalan 100 meteran di jalan menurun ke arah Kasongan, tiga temen gue itu ketawa ngakak.
“Gampang banget…” kata mereka.
Tentu saja tiga cewek itu bingung. Apalagi Sukma kini terpaksa duduk merapat jendela karena dipepet lelaki besar di sebelahnya.
“Kalian tidak akan kami bawa ke kantor polisi, seneng kan nggak perlu lihat pistol? Tapi jangan khawatir, nanti kita tunjukin pistol yang lain,” desisnya.
“Eh…eh…apa-apaan ini?” Sukma ketakutan.
“Eiiiiii…kurangajj…” Sukma menjerit dan meronta, sebab tiba-tiba kedua payudaranya ditangkap dua telapak tangan yang besar, lalu diremas-remas keras seenaknya.

Dua gadis di belakang juga menjerit-jerit ketika payudara mereka pun diperlakukan sama. Lelaki itu lalu menyingkapkan jilbab Sukma dan dengan nafsu kembali mencengkeram payudara montok itu. Sukma makin keras menjerit. Lalu tiba-tiba…breetttt….bagian muka jubah tipisnya koyak sehingga memperlihatkan tonjolan buah dadanya yang berbungkus BH coklat muda.

“Wah, susu yang segar,” kata temen gue.
“Jangannn…tolong…jangaann…” Sukma menangis.
“Jangan cerewet, kalian bertiga tidak usah bawel, nurut saja atau tempik kalian kuculek pake belati ini!” kali ini temen gue mulai mengancam dengan menyentuhkan ujung belati ke permukaan payudara Sukma yang menyembul dari BH-nya.

Di belakang, Susi dan Sumi terisak-isak. Blus keduanya sudah lepas, tinggal rok yang menutupi bagian bawah tubuh muda dan mulus itu. Keduanya pun memekik berbarengan ketika penutup dada mereka direnggut hingga putus.
“Wah…wah…ini susu yang indah…” kata kedua temen gue di belakang.
“Coba lihat punya Nyonya ini…” lanjut mereka.

Temen gue di depan pun bertindak cepat, memutus tali antara dua cup BH Sukma. Sukma terisak, buah dadanya kini telanjang dan…..
”Aww.” ia menjerit agak keras ketika kedua putingnya dijepit dan ditarik serta diguncang-guncangkan.
Kedua temen gue di belakang ketawa dan ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada puting Sumi dan Susi.

Sukma meronta-ronta tapi sia-sia saja ketika tubuhnya dibaringkan di jok mobil, lalu temen gue menyingkapkan bagian bawah jubahnya. Kedua kaki telanjangnya menendang-nendang, tapi ia kesakitan juga waktu kedua bagian dalam paha mulusnya dicengkeram keras. Ia menjerit lagi waktu selangkangannya yang ditutupi celana dalam putih digebuk sampai bunyi berdebuk. Dengan kasar, jari-jari temen gue menyingkapkan kain segitiga itu hingga memiawnya yang berjembut agak lebat terbuka.

Tanpa ba bi bu, ditusukkannya telunjuknya ke lubang memiaw Sukma.
“Aaahh….” Sukma menjerit kesakitan. memiawnya yang kering membuat tusukan itu jadi amat menyakitkan.
Tapi temen gue itu nekad terus nyodok-nyodok memiaw yang legit itu. Malah waktu telunjuknya sudah terasa agak licin, dia tambah jari tengah. Lagi-lagi Sukma menjerit kesakitan. Tapi nggak kapok juga temen gue itu. Sebentar saja sudah tiga jari yang nyodok-nyodok memiaw perempuan manja itu.

Di belakang, Susi dan Sumi juga merintih-rintih, sebab dua lelaki yang bersama mereka kini mengisap-isap pentil susu mereka sambil terus meremas-remas susunya yang kenyal. Susi pertama kali memekik waktu tangan temen gue menelusup sampai ke balik celdamnya dan meremas-remas memiawnya sambil sesekali mencabuti jembutnya. Sumi akhirnya juga mendapat penghinaan yang sama, bahkan ia merasa klentitnya lecet karena terus diuyel-uyel dengan kasar.

Mobil akhirnya sampai ke rumah besar punya temen gue yang asyik ngobok-obok memiaw Sukma. Gue buka pintu belakang mobil. Di dalam, gue liat Susi dan Sumi yang topless, cuman pake rok doank! Dan yang lebih bikin gue kaget lagi, ternyata tongkol dua temen gue lagi dijilatin ama dua perawan itu. Toket kedua anak itu kelihatan mulai memerah karena terus diremet-remet. Terang aja gue tersentak, tapi gue sendiri gak bisa berbuat apa-apa lagi! Soalnya gue sendiri nggak tahan, terus ikut mencet pentil kanan Susi dan pentil kiri Sumi.

“Nghhh….” dua cewek itu cuma bisa mengerang karena dua tongkol ada di mulut mereka.
Terus gue buka pintu tengah. Buset, di dalam, temen gue masih asyik menjilati memiaw Sukma dan menyodok-nyodok lubangnya dengan tiga jari. Sukma sudah tidak menjerit-jerit lagi. Yang terdengar sekarang cuma rintihannya, persis seperti bayangan gue. Nggak tahan, gue naik, terus gue pegangin kepala perempuan berjilbab itu.

“Emut tongkol gue, kalau nggak, gue potong susu lu!” kata gue sambil nyodorin tongkol yang udah ngaceng sejak tadi.
Tangan kiri gue mencengkeram susu kanan Sukma yang montok sampai ke pangkalnya. Tangan kanan gue menahan kepala Sukma biar tetep menghadap tongkol. Sukma nyerah, dia buka mulutnya. Cepet gue masukin tongkol gue sampe ke pangkalnya.
“Diemut!” bentak gue sambil menambah tenaga remasan di buah dadanya.

Gue ngerasain kenikmatan yang luar bisa banget waktu tongkol gue diemut-emutnya sambil merintih-rintih. Biar gampang, sama temen gue tadi, gue gotong cewek itu dan gue lempar ke lantai garasi. Sukma menjerit kesakitan dan makin keras jeritannya waktu jubahnya gue lucuti, begitu juga rok dalam dan celdamnya. Terlihatlah memiawnya yang terpelihara rapi, dengan bulu-bulu halus yang diatur dengan indahnya.

Gue mainkan itilnya yang ada di dalam bibir memiawnya sampai dia berkelojotan ke kanan-ke kiri. Sekarang temen gue yang jongkok di depan muka cewek itu dan memaksanya berkaraoke. Dari belakangnya, tanpa banyak bicara, gue langsung ngent*t cewek itu.
“Aunhhh…” Sukma mengerang panjang waktu tongkol gue nyodok memiawnya sampai mentok. memiawnya lumayan rapet dan legit biarpun dia sudah punya anak satu. Ada seperempat jam gue kocok memiawnya pake tongkol, terus gue suruh dia nungging.

Dari depan, temen gue masih ngent*t mulutnya sambil memegangi kepala cewek berjilbab itu. Dari belakang, pemandangan itu bikin gue makin nafsu. Gue remet keras-keras memiawnya pake tangan kiri, terus telunjuk kanan gue tusukin ke pantatnya. Sukma mengerang lagi waktu gue gerakin telunjuk gue berputar-putar supaya lobang kecil itu jadi lebar. Begitu mulai lebar, gue masukin tongkol ke dalamnya. Tubuh Sukma mengejang hebat, erangannya juga terdengar amat heboh. Tapi tetep gue paksa tongkol gue biar susahnya bukan main. Sampe akhirnya tongkol gue masuk sampai ke pangkal, gue tarik lagi sampai tinggal kepalanya yang kejepit. Terus dengan tiba-tiba gue dorong sekuat tenaga.

“Aaahhh…..” Sukma melepas tongkol temen gue dan menjerit keras.
Tapi rupanya pas temen gue sampai puncak kenikmatannya. Akibatnya air maninya nyemprot muka Sukma sampai belepotan. Cuek, gue genjot terus pantat perempuan montok itu biar dia menangis-nangis kesakitan. Malah sekarang gue peluk dia sambil kedua susunya gue remes-remes. Temen gue yang barusan nyemprot sekarang malah masukin dua jarinya ke lubang memiaw Sukma dan diputar-putar. Ini bikin Sukma makin kesakitan.

Gue ngerasa tongkol gue udah peka banget. Jadi makin cepet gue genjot dan langsung gue banting cewek itu. Sukma nggak sempet mengelak, waktu tongkol gue tempelkan ke mulutnya dan gue paksa dia mengulumnya.
“Crott…crott…crottt…” air mani gue nyemprot sampai tiga kali ke dalam mulutnya. Sukma sudah mau menumpahkannya, jadi gue pencet pentilnya dan gue tarik ke atas.
“Telen!” bentak gue.
Sambil merem, Sukma menelannya semua, lalu menekuk tubuhnya sambil menangis. Dengan ujung jilbabnya gue dan temen gue mengelap tongkol yang berlendir. Dari celah pantat bundar Sukma gue lihat ada darah keluar.

Lagi asyik ngelihatin tubuh bugil Sukma, gue dengar ketawa ngakak dua temen gue. Lalu terlihat Susi dan Sumi turun dari mobil dan jalan sempoyongan. Gue melotot. Dua cewek itu nyaris bugil. Jilbab mereka disampirkan ke belakang sehingga susunya yang kemerahan bekas diremas-remas bebas terlihat, dengan pentilnya yang kecoklat-coklatan. Dua-duanya terisak-isak, di sekitar bibir dua cewek hitam manis itu belepotan lendir putih. Yang menarik, rok mereka sudah lepas, tinggal celdam putih milik Susi dan kuning muda Sumi. Malah celdam Susi dibikin temen gue terangkat tinggi sampai nyelip di bibir memiawnya. Akibatnya, bibir memiawnya kanan dan kiri kelihatan gemuk dan jembutnya menyembul ke kanan dan kiri.

Nggak tahan, gue pepet anak itu ke mobil, terus tangan gue mulai merayapi selangkangannya. Tangan gue mulai bermain-main di bibir vaginanya yang njepit celananya.
“Jangaann…ampun ” rintihnya.
“Adduhhhh…” pekiknya, karena gue cabut beberapa helai jembutnya.
Dari bawah gue cengkeram susu kanan Susi yang nggak seberapa gede tapi kenyal itu, terus gue dorong ke atas sampai putingnya ngacung, lalu gue sedot kuat-kuat. Susi meronta kesakitan, apalagi kemudian gue tarik celdamnya ke atas. Susi memekik waktu celdamnya akhirnya putus. Gue terus melorot dan gue paksa cewek itu nyodorin memiawnya buat gue hisap. Gue mainin itilnya dengan lidah gue, bahkan sampai gue sedot pakai mulut gue! Susi makin kelojotan dan mendesah.

Sementara itu, gue lihat Sumi lagi dipaksa menyepong tongkol temen gue. Sedang Sukma sudah mulai disodomi lagi. Malah, dia dipaksa telentang dengan tongkol menusuk pantatnya, lalu memiawnya disodok dari depan. Kedengeran Sukma menjerit-jerit kesakitan.
“Aihhh…” Susi memekik waktu telunjuk gue masuk satu ruas ke lubang pantatnya, terus gue dorong ke depan sampai lubang memiawnya merekah dan kelihatan lorong yang merah dan basah, gue jilatin sampai cewek 21 tahun itu menggeliat-geliat.

“Aduhh…jangaann…” Susi menjerit waktu gue tiba-tiba berdiri sambil mengangkat kaki kirinya.
Tapi gue nggak peduli, tongkol gue pas banget nunjuk memiawnya. Terus gue kucek-kucek memiaw anak itu, sampai mulai terasa basah. Terus gue pegang tongkol gue dan gue paksa masuk kepalanya ke celah bibir memiawnya. Kepala tongkol gue terasa seperti direndam di air hangat. Susi menjerit makin nggak karuan waktu tangan kiri gue mencengkeram susu kanannya sampai ke pangkalnya sekuat tenaga. Malah, daging kenyal itu sampai terasa seperti remuk.

“Aaaahh….sakkkiiittt…..” Susi menjerit histeris waktu gue dorong pinggang ke depan dengan tiba-tiba dan sekuat tenaga.
Tongkol gue masuk sampai ke pangkalnya. Malah kerasa kepalanya sampai mentok ke dasar memiawnya. Begitu mentok gue berhenti sebentar. Gadis itu sesenggukan, nafasnya tersengal-sengal. Tapi yang paling asyik, gue merasa tongkol gue di dalam memiawnya seperti dibasahi cairan hangat. Belakangan gue tahu yang hangat itu darah keperawanannya.

Dengan gerakan kasar dan tiba-tiba, gue kocok tongkol gue di dalam memiaw Susi. Terasa sempit banget dan kering. Gue sih enak, tapi akibatnya Susi menjerit-jerit kesakitan dan minta ampun. Susi masih merintih-rintih waktu tongkol gue tarik keluar, terus gue jongkok di depan selangkangannya. Langsung gue masukin empat jari ke dalam lubang memiawnya yang masih menganga.

“Ahhh…sakkttt…aaahh…” Susi menjerit lagi waktu empat jari gue puter-puter di dalam memiawnya.
Waktu gue tarik keluar empat jari gue yang basah lendir dan darah, cewek itu jatuh melorot sambil terus menangis.
“Hey, bawa sini perawan satu itu, lu ambil memiaw yang ini. Pantatnya buat gue ya!” teriak gue ke teman yang lagi asyik ngucek-ngucek memiaw Sumi.

Temen gue cepat bangun lalu menyeret kedua kaki Sumi dan menggeletakkan cewek imut-imut itu di dekat kaki gue. Tanpa banyak bicara, dia terus mendorong Susi yang menangis sambil duduk bersimpuh sehingga jatuh terlentang. Gue tarik Sumi sampai kepalanya berbantalkan paha gue, menghadap Susi yang lagi digarap ulang. Gue remas-remas pelan kedua payudaranya yang kenyal. Cewek itu menangis.

“Kamu paling muda, jadi memiawmu pasti paling enak. Kamu mau tongkolku masuk memiawmu?” kata gue sambil memilin-milin putingnya yang hitam dan mungil tetapi tebal.
“Huuu…jangaaannn…huuu…” ABG itu menangis lagi.
“Lihat Bu Lik Sukma dan Bu Lik Susi itu…memiawnya sudah jebol…kalau kamu nggak mau seperti mereka, kamu harus nurutin apa kata gue, ngerti? Sekarang lihat ini,” Gue lalu menghampiri Sukma yang sedang dient*t dan disodomi berbarengan.

Gue pegang kepala Sukma yang lagi menjerit-jerit kesakitan. Lalu gue paksa dia mengulum tongkol gue lagi sampai tongkol gue basah. Terus gue suruh temen gue yang lagi nyodok memiaw Sukma bangun, gantian dia memasukkan tongkolnya ke mulut Sukma. Terus gue suruh pindah tongkol temen gue satunya dari pantat ke memiaw. Badan Sukma kelojotan dan gemeteran waktu gue paksa tongkol gue ikut masuk memiawnya.

Temen gue yang dari tadi menyodomi dia rupanya nggak tahan lama lagi. Dia cepat-cepat menggerakkan tongkolnya maju mundur. Sukma menjerit histeris, sebab dua tongkol di dalam memiawnya bikin memiawnya seperti mau sobek. Temen gue rupanya nggak tahan. Nggak lama dia ngecrot di dalam memiaw Sukma. Yang di atas juga gitu, dia ngecrot lumayan banyak di dalam mulut Sukma. Sukma ambruk, lemes di lantai. Sekarang gue balik ke Susi yang lagi menjerit-jerit karena dipaksa duduk di atas tongkol temen gue. Kedua susunya dicengkeram sehingga dia terpaksa bergerak-gerak naik turun. Dari belakang, gue dorong punggung Susi yang mulus sampai dia ambruk di atas dada temen gue.

“Kamu nggak mau disodomi juga kan. Lihat nih,” kata gue lagi kepada Sumi yang makin kenceng nangisnya.
Susi menjerit melengking waktu telunjuk gue paksa masuk ke lubang anusnya. Rapet banget, jadi gue paksa satu telunjuk lagi masuk dan gue gerak-gerakin, bikin lubangnya makin lebar. Sampai cukupan buat masuknya kepala tongkol, gue sodok aja. Kepala tongkol gue sekarang kejepit pantat Susi. Gue dorong dua senti, Susi menjerit lagi. Mundur satu senti lalu maju tiga senti. Susi makin keras menjerit. Lalu mundur lagi satu senti dan dengan tenaga penuh….
“Aaaahh…saakkkiiitt….” Susi menjerit histeris.
Tongkol gue masuk sampai pangkalnya ke dalam lubang pantatnya. Sempit banget, sampai kerasa tongkol gue seperti remuk di dalam. Tapi terus gue genjot agak lama.

Lima menitan, gue lepas dan dua temen gue yang tadi ngerjain Sukma udah siap di belakang Susi, mau gantiin. Gue balik ke Sumi, sementara Susi mulai menjerit lagi waktu pantatnya disodomi lagi. Tapi jeritannya hilang waktu mulutnya juga diperkosa.
“Gimana? Kamu mau nurut?” kata gue sambil jongkok di sebelah Sumi dan mengucek-ucek memiawnya yang berjembut tipis.
“I…iya…iya…” katanya terbata-bata.
“Bagus, sekarang bersihin tongkolku,” kata gue sambil berdiri, menyodorkan tongkol gue yang basah air mani temen gue dan darah dari pantat Susi.

Sumi menelan ludahnya, tampangnya tampak jijik. Tapi karena takut, dia jilat juga tongkol gue. Gila, gue kayak di awang-awang, apalagi dia terus mulai menyedot-nyedot tongkol gue. Setelah lama dia nyepong gue, gue liat tiga temen gue udah selesai. Susi kayaknya pingsan. memiaw, pantat dan mulutnya belepotan air mani.
“Gue juga bersihin dong,” kata temen-temen gue berbarengan.
Sumi nggak punya pilihan lain. Akhirnya gadis imut-imut itu berjongkok di depan empat lelaki, menjilati dan menyepong tongkol-tongkol berlendir. Tidak cuma itu, dia juga gue suruh jilat seluruh air mani di badan Sukma dan Susi. Malah, dari memiaw Sukma gue sendokin air mani dan gue suapin ke mulut Sumi yang berbibir mungil itu.

“Huuu…sudahh…saya mau pulang…” Sumi terisak sambil duduk bersimpuh.
“Boleh, tapi kamu harus joget dulu,” kata gue sambil melepas ikatan di tangannya.
Sumi seperti kebingungan. Tapi tiba-tiba ia menjerit karena temen gue tahu-tahu menyabetkan ikat pinggangnya, kena payudara kirinya.
“Ayo cepet joget!” bentaknya.

Takut-takut Sumi berdiri, tapi kali ini temen gue yang lain menampar pantatnya dari belakang.
“Joget yang hot!” bentaknya.
Akhirnya Sumi mulai meliuk-liukkan tubuhnya. Merangsang banget, gadis berjilbab tapi bugil, joget di depan gue. Gue tunjuk selangkangannya.
“Ayo, gerakin pinggulmu maju mundur sampai memiawmu kena telunjukku ini,” kata gue.

Sumi nurut. Pinggulnya maju mundur sampai memiawnya yang berjembut tipis nyenggol telunjuk gue. Pas mau nyenggol kelima kalinya, sengaja gue sodok agak kenceng sampai seperti menusuk klentitnya. Sumi menjerit kesakitan. Sekarang dia malah ketakutan waktu tiga temen gue ikut joget di sekelilingnya sambil memegang-megang buah dada, pantat dan memiawnya.
“Jogetmu bikin aku ngaceng nih!” kata gue sambil mengacungkan tongkol gue yang emang udah tegang banget.

Temen-temen gue ketawa ngakak lalu memegangi kedua tangan Sumi dan menelentangkannya di lantai.
“Aaahhh….janngann….kalian jahaattt…” Sumi menjerit dan meronta-ronta.
Satu kakinya dipegangi temen gue, satu lagi gue pegangin, ngangkang lebar banget. Sumi nangis lagi, waktu ngerasa memiawnya mulai kesenggol kepala tongkol gue. Cewek mungil ini menjerit keras waktu jari gue dan temen gue menarik bibir memiawnya ke kanan dan kiri. Terus, tongkol gue mulai masuk 4 senti dan tarikan langsung dilepas. Sekarang tongkol gue kejepit memiaw perawan yang sempit. Gue ambil posisi, pegangan dua buah dadanya yang mulus sambil jempol dan telunjuk gue menjepit pentilnya.

“Aku harus adil dong, masak saudaramu dapat tongkol, kamu nggak?” kata gue sambil dengan tiba-tiba mendorong tongkol gue maju dengan kekuatan penuh.
Akibatnya luar biasa. Sumi menjerit sangat keras. Gue sendiri merasa tongkol gue merobek sesuatu yang sangat liat. Begitu tongkol gue mentok ke dasar memiawnya, gue berhenti sebentar. Kerasa memiawnya berdenyut-denyut meremas-remas tongkol gue. Pelan-pelan gue merasa ada cairan hangat membasahi tongkol gue. Itu pasti darah perawannya.

Akhirnya, ABG imut-imut itu menjerit-jerit tak berhenti waktu tongkol gue kocok dengan gerak cepat di dalam memiawnya. Apalagi temen-temen gue asyik meremas-remas susunya. Malah, kerasa ada yang mulai nusuk pantatnya pakai jari. Ada lagi yang memaksanya ngemut tongkolnya. Nggak lama, gue pindah tongkol ke pantatnya setelah Sumi dibikin nungging. Lagi-lagi Sumi menjerit histeris, sebab pantatnya yang lebih sempit dari memiawnya itu tetap bisa gue jebol pakai tongkol gue.

Seperti dua cewek lainnya, sekarang Sumi telentang di atas dada gue, terus memiawnya yang berdarah disodok tongkol temen gue dari depan. Mulutnya sekarang malah dipaksa ngemut dua tongkol sekaligus. Sekarang Sumi gue paksa nungging di atas dada temen gue sambil tongkolnya tetap di dalam memiaw cewek yang baru lulus SMU itu. Dua tongkol masih berebut masuk mulutnya. Dari belakang, sekarang gue coba masukin tongkol gue, bareng tongkol temen gue yang sudah masuk duluan. Sumi merintih kesakitan, waktu tongkol gue bisa masuk. Pas tongkol temen gue masuk sampai pangkalnya, gue sodok keras-keras sampai tongkol gue juga masuk sampai pangkal. Sumi memekik keras, sebab terasa ada yang ‘krekk’ di dalam memiawnya. Selaput daranya mungkin sobek lebih lebar lagi.

Gue ambil tongkol karet punya temen gue, terus gue tusukin jauh-jauh ke dalam anusnya. memiawnya jadi terasa tambah sempit aja. Sumi mengerang panjang waktu gue nggak tahan lagi, ngocokkan tongkol beneran dan tongkol karet makin cepat.
“Minggir…minggir…” kata gue ke dua temen gue yang lagi memperkosa mulut Sumi.
Cepet gue masukin tongkol gue ke dalam mulut berbibir mungil itu dan, sedetik kemudian, air mani gue tumpah banyak banget di dalam mulutnya. Sumi sudah lemas waktu dia ditelentangin dan tiga temen gue antri ngocok cepat-cepat lalu nembak di dalam mulutnya.

Cewek itu betul-betul tak berdaya. Saat temen gue yang terakhir nyemprot ke dalam mulutnya, dia malah sudah pingsan. Mulutnya yang terbuka betul-betul putih, penuh air mani. Malah, wajah imut-imutnya juga ikut basah. ***

Tiga cewek itu sekarang sudah di mobil lagi. Mulut-mulut mereka yang penuh air mani sudah dilakban, sedang tangan diikat di belakang punggung. Tiga cewek bugil itu digeletakkan begitu saja di lantai tengah mobil. Sukma yang pertama siuman, merintih dan menggeliat. Dua temen gue yang jaga di jok tengah lalu mengangkatnya hingga duduk di tengah-tengah. Lagi-lagi payudara montoknya diremas-remas dan putingnya disedot-sedot. Sukma cuma bisa merintih. Tapi ia mengerang kesakitan waktu dua ujung gagang kuas lukis yang runcing didorong di atas dua putingnya sampai tak bisa maju lagi.

“Ini bagus dan menarik,” kata temen gue lalu mengikat empat kuas dengan karet gelang di dua ujung gagang kuas, masing-masing dua kuas.
Ia lalu merenggangkan kedua kuas dan menyelipkan payudara Sukma di antaranya. Selanjutnya, tarikan dilepas sehingga kuas kembali merapat dan menjepit erat gumpalan daging montok itu di pangkalnya. Dua buah dada Sukma diperlakukan seperti itu, sehingga menggelembung dan makin lama makin terlihat merah kehitaman. Sukma merintih dan menggeliat-geliat kesakitan. Lalu Susi yang menyusul siuman juga diperlakukan sama. Terakhir, begitu sampai Kasongan, Sumi siuman. Perlakuan yang diterimanya nyaris sama. Bedanya, cuma dua kuas yang menjepit di payudaranya. Tapi, pasti sakit sekali karena yang dijepit adalah dua putingnya sekaligus.

Rumah Sukma dini hari itu sepi sekali. Maka mobil langsung masuk garasi yang memiliki pintu tembus ke kamar Sukma. Tiga pigura besar langsung disiapkan temen-temen gue. Lalu cewek-cewek yang masih menggeliat kesakitan itu, kita ‘pigura’ dengan tangan terikat di frame atas, kaki di frame bawah.
“Ini pasti lucu,” kata temen gue sambil bawa masuk dongkrak mobil.
Diputarnya dongkrak sehingga bagian pengangkat turun merapat dan ulirnya yang berdiameter tiga senti menonjol tiga senti. Lalu dibuatnya Sumi duduk di atas dongkrak. Otomatis besi berulir menusuk memiawnya. Lalu diputarnya lagi dongkrak sehingga turun dan besi berulir naik. Sumi mengerang kesakitan, sebab begitu besi pengangkat rapat, besi berulir itu mencuat ke dalam memiawnya sedalam 10 senti lebih.

Darah perawannya bercampur air manipun menetes ke dongkrak dan lantai keramik putih. Sedang Sukma dan Susi dipigura pada posisi berdiri. Dua puting Sukma dan Susi lalu disentuh dengan raket nyamuk. Sekejap tapi dua cewek itu langsung melonjak dan mengerang kesakitan. Lalu gagang raket ditusukkan ke dalam memiaw Susi. Lubang pantatnya dimasuki lima kuas dengan bulu di dalam. Di memiaw Sukma gue masukin dua baterai besar dan satu di pantatnya. Tiga buah pancing lalu gue ikat di pigura Sukma. Lalu, tiga kail gue tancapkan di pentil dan klitorisnya. Sukma mengerang hebat waktu tali pancing gue gulung sampai menarik tiga titik peka itu. Sampai akhirnya, Sukma pingsan lagi.

“Kamu berdua harus pingsan lagi ya?” kata gue kepada Susi dan Sumi yang ketakutan waktu ngelihat enam tusuk gigi lancip di tangan gue.
Pertama-tama Susi yang mengerang hebat waktu dua tusuk gigi gue tancepin di dua pentilnya sampai lima senti. Darah lalu mengalir dan menetes lewat ujung tusuk gigi. Waktu klentitnya yang gue tusuk dari bawah sampai tembus ke atas, Susi mengerang lagi dan tubuhnya kejang sampai akhirnya lemas, pingsan. Sekarang Sumi yang ketakutan. Gue tarik satu persatu putingnya, gue tusuk tembus melintang sehingga nyangkut di gagang kuas. Darah juga menitik lewat ujung tusuk gigi. Seperti Susi, dia juga pingsan waktu klentitnya juga gue tusuk tembus melintang.

Keadaan sepi, gue dan temen-temen membuka lebar korden ruang tamu, lalu menyalakan lampu. Cepat kami cabut dari situ sambil melihat pemandangan indah di ruang tamu… ***

Seminggu kemudian, gue mampir ke rumahnya. Berlagak nggak tahu, toh Sukma, Susi dan Sumi juga nggak tahu kalo gue yang merkosa mereka. Tapi gue kaget juga waktu yang membuka pintu bukan mereka, tapi seorang gadis berjilbab putih panjang dan jubah ungu.

“Saya Kantuningsih. Saya kos di sini,” kata gadis berwajah khas Jawa itu.
“Bu Sukma kemana?”
“Bu Sukma sekarang tinggal di Klaten…” sahutnya.
Ow… ow… gue kecewa. Tapi entar dulu, kapan-kapan si Kantun ini perlu disodok juga memiawnya. Temen-temen gue harus dikasih tau ! Betapa mempesonanya wanita ini. dibalik kesopanan pakaian tersembunyi pesona liar

Tamat

0 Response to "3 Wanita Berjilbab"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.