Nenek Jul yang Masih Hot

nenek gaul - cerdes
Dia selalu tersenyum dan menyapaku dengan ramah. Dia begitu rapi dalam berpakaian, walau dalam usianya yang sudah meginjak 60 tahun. Aku selalu memanggilnya Nek Mirah. Karena menurutnya dia sudah punya cucu 5 orang dari ke 3 anaknya yang semuanya perempuan. Nek Mirah seorang tukan cucui pakaian anak-anak kos.

Dia selalu datang mengambil cucian yang sudah dibungkus dalam plastik dan diberi nama, kemudian akan mengembalikannya besoknya setelah distrika. Aku melihatnya dengan sopan pula. Ketika di memasuki kamar kosku, dia selalu menyapaku,
"Hanya ini cuciannya, mas?"
Setiap sore aku memberikan pakaian kotorku, berupa dua stel pakaian, tambah celana dalam dan singlet.

"Nenek sudah usia 60 tahun tapi tubuh nenek masih padat dan kencang," kataku memujinya.
Dia tersenyum. Katanya dia selalu minum jamu dan harus tetap sehat. Kalau tidak, bagaimana mau hidup. Sementara semua anak-anaknya hidup dengan sedrahana bersama keluarga masing-masing.
"Tapi nenek masih tetap cantik," kataku berterus terang.

Aku memang harus jujur, kalau gurat-gurat sisa kecantikan di wajahnya masih terlihat. Giginya yang terawat bagus dalam usianya itu. Aku melihat pantatnya masih tonggek. Dadanya masih padat dibalut oleh Bra. Kulitnya bersih sawo matang, hampuir kuning langsat. Tanpa sengaja karena geram, aku mengelus pantatnya yang tonggek.
"Huss...nantyi dilihat orang, malu," katanya.

Oh...berarti kalau tidak dilihat orang berarti bisa, bisik hatiku. Cepat kututup pintu kamar dan menurunkan kain gorijn. Aku raba lubangnya dari balik kain sarungnya.
"Ikh...Mas. Aku sudah tua, kok Mas ini justru suka gratil," katanya.
"Tapi aku nafsu melihat nenek," kataku berterus terang.
"Kan banyak yang masih muda. Kenapa mau sama nenek-nenek?" katanya lagi, sambil terus memasukan kain kotorku ke dalam plastik yang sudah tersedia.
"Yang penting, walau tua masih bisa memuaskan," kataku.
"Kalau soal memuaskan, nenek memang ahlinya," katanya memuji dirinya.
"Kalau begitu, ayo lah nek. Sebentar aja kok," kataku.
Nenek itu tersenyum lagi.
"Nanti nyesal," kata nenek dengan genitnya.

Aku langsung memeluknya dan meraba lubangnya dari balik sarungnya. Kuremas-remas teteknya dan perlahan kulepaskan ikatan kain sarungnya. Sarung itu sudah terlepas. Celananya warna krem keliatan jelas. Rambutnya yang selalu tersisir rapi dan diikat, serta dia selalu memakai kebaya. Kukecup bibirnya dan kupermainkan lidahku di dalamnya, sembari merabai pantatnya yang tonggek. Perlahan kulepas celana dalamnya.

"Nanti ketahuan orang. Malu," katanya.
"Kan kita tidak bercerita kepeda orang," bisikku.
"Nanti kalau ada yang masuk bagaimana?" katanya
"Pintu sudah dikunci. Kalau ada yang ketuk jangan dibuka saja. Orang akan berpikir, aku sedang keluar," kataku.

Kurebahkan dia dilantai dan kutindih tubuhnya. Aku membuka sarungku hingga batangku yang sudah berdiri tegak mulai kuarahkan ke lubangnya. Akua melihat bulu-bulunya yang sudah menipis dan beberapa uban sudah tumbuh pada kemaluannya. Kukangkangkan kedua pahanya dan kuarahklan batangku ke lubang nenek itu.

Perlahan kutekan konetolku ke dalam lubangnya. Terasa sedikit kesat.
"Pelan dikit..." katanya.
Walau lubangnya sudah agak lebar, tapi terasa kesat. Mungkin getahnya sudah agak kering. Perlahan kutekan kembali batangku. Nenek melebarkan lubangnya dan perlahan pula batangku memasuki lubang nenek. Setelah yakin semua batangku masuk, perlahan aku tarik dan perlahan pula kutekan ke dalam lubangnya.

"Punya Dimas lumayan juga kerasnya," bisik nenek.
Aku tersenyum. Sembari aku membuka kebayanya dan melepas pengkait bra-nya. Tersembul teteknya. Walau tetek itu tidak seperti tetek seorang gadis, tapi tidak terlelu molor. Kuisap-isap pentinya. Nenek meinta agar aku mengigit-gigitnya perlahan-lahan. Aku menggigitnya perlahan sembari memgisap-isapnya. Aku terus meanarik-cucuk batangku.

Kini terasa batangku sudah bisa leluasa keluar masuk lubangnya. Sudah terasa licin, namun masih kesat. Nikmat juga lubang nenek Mirah. Dengan cepat seperti seorang pendekar, nenek membalikkan tubuhku setelah dipeluknya kuat-kuat. Kini aku berada di bawa dean Nek Mirah berada di atasku. Batangku masih berada dalam lubangnya. Nek Mirah duduk mengangkangiku dan memutar-mutar pantatnya, membuat batangku seperti dipermainkan.

"Enak enggak?" tanyanya tersenyum.
"Enak nek. Aku belum pernah ngent0t selama ini," kataku berterus terang.
"Aku sudah mau keluar nek," kataku.
Nek Mirah memperlambat goyangannya. Sesekali aku merasa batangku seperti dijepit-jepit di dalam lubangnya. Aku merasa nikmat sekali. Nek Mira menunduk dan mengisap-isap ujung tetekku. Lidahnya dipermainkan di ujung tetekku. Aku menggelinjang.
"Nikmat sayang," katanya merayu dan mengajukku.

Aku mengakui rasa nikmatku. Nek Mira tersenyum manis lagi. Tiba-tiba Nek Mira menekan kuat pantatnya hingga batangku terbenam jauh dan terasa buah jakarku tertekan. Aku merasakan ada lendir panas menyemprot batangku. Sejak Nek Mira berhenti dan nafasnya memburu, lalu memutar lagi pantatnya di atasku, membuat batangku terasa ngilu dan aku merasakan melayang.
"Nek..." kataku.
"Ya udah...tembak saja," katanya tersenyum.
Aku pun melepaskan spermaku beberapa kali di dalam lubangnya. Nek Mira tersenyum lagi.
"Sudah puas?" katanya seperti mengajuk dan mengejekku.
"Puas sekali nek," kataku.
"Besok mau lagi?"
"Mau nek."
"Kalau mau lagi cari tempat aman ya sayang," katanya. Aku mengangguk.
"Aku sudah lama menginginkanmu," katanya.
Dia tidak lagi memanggilku Dimas. Dia sudah berkau-kau dan bersayang-sayang.
"OK..kekasihku," kataku tak kalah genitnya.
Nek Mirah tersenyum.
"Enakya punya pacar nenek-nenek?" tanyanya.
"Enak. Soalnya nenek-nenek tapi masih gesit," kataku memuji.
Dia tersenyum lagi memperlihatkan gigi kebanggaannya yang masih rapai dan putih bersih. Kami memasuki kamar mandi dan cebok. Ku buka pintu. Setelah aman, Nek Mira keluar dari kamarku denga tersenyum. Besoknya dia datang dan menyerahkan sebotul Vaseline seperti salep putih.
"Kalau mau main, kamu oleskan dulu ini ke anu-mu, baru masukkan ke tempat nenek," katanya mengajariku.
Mulanya aku tidak mengerti. Lama kelamaan aku mengerti, agar tidak perih, vaseline itu harus dipoleskan dulu agar licin, karena lubang Nek Mira sudah kurang getahnya.

Jika ada kesempatan, kami selalu melakukan persetubuhan. Nek Mira semakin manja dan selalu membawaku oleh-oleh seperti ketan hitam ditaburi kelapa dan sedikit garam serta satu-dua buah pisang goreng. terkadang dia membawaku lauk yang dia masak sendiri. Terkadang dia membawaku makanan tiwul. Aku juga jika pulang dari kulaih, aku selalu membelikannya makanan, seperti cake, Pizza dan makanan lainnya. Nek Mira senang sekali menerima makanan yang aku berikan.

Sekali waktu, aku datang ke rumahnya yang kecil mungil. Aku melihat rumahnya tertata rapi. Dan sekali waktu, dia datang pada pukul 24.00 ke kamarku. Keadaan sudah sangat sepi dan kawan-kawan yang sempat bertandang, sudah pada pulang. Rindu dan tak bisa tidur, katanya. Kuajak dia tidur bersamaku. Malam itu kami bersetubuh sepuas-puasnya. Nek Mira juga pintar mengisap dan menjilati batangku sampai ke lubang duburku dijilatnya.

Kami tidur telanjang berpelukan malam itu. Pagi pukul lima, Nek Mira terbangun dia memasakkan sarapan buatku. Begitu aku terbangun, Nek Mira sudah menyuguhkan susu hangat dan telur setengah masak. Dia sudah mandi dan rapi. Selesai aku mandi, masih dengan sarung, aku duduk dan sarapan. Tapi Nek Mira justru masuk ke bawahku dan mengisap batangku ketika aku sarapan.
"Biar kedua-duanya sarapan," kata Nek Mirah.

Tiga tahun kami melakukan percintaan kami tanpa siapapun yang tahu, karena kami rapi menjaganya. Setelah lulus kuliah, aku permisi. Di tempat kerjaku di sebuah pedalaman Kalimantan, aku mendapatkan perempuaan yang sama. Aku menyebutnya Nek Julia. Seorang perempuan Dayak yang putih dan mulus serta cantik dan pandai menjaga diri dengan ramuan kunonya. Dia keturunan Dayak yang sudah modern. Nanti aku akan bercerita tentang Nek Julia ini.

Tamat

0 Response to "Nenek Jul yang Masih Hot"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.