Selingkuh Dengan Tukang Koran

Tumpukan Koran - cerdes
Di kalangan masyarakat komplek perumahan yang kutinggali, aku termasuk ibu rumah tangga yang terhormat. Aku sangat mencintai suamiku, Mas Dito yang cukup ganteng dan punya jabatan. Aku sendiri Eni, wanita cantik umur 32 tahun. Setiap keluar rumah, aku selalu memakai jilbab panjang dengan jubah yang menutupi seluruh tubuh.

Kuakui aku agak kesepian. Sejak 5 tahun perkawinan, kami belum juga dikaruniai anak. Saat-saat suami tak di rumah aku sering khawatir dan cemburu, takut dia mencari perempuan lain yang bisa memberikan anak. Demikian pula saat suami sedang sibuk atau lelah dan tak banyak ngomong, aku sudah cepat curiga dan cemburu pula. Aku sering membesarkan hati sendiri, bahwa tak ada yang kurang dari diriku, tubuh sintal, kulit putih, payudara dan pantat yang masih montok, tak mungkinlah suamiku mencari wanita lain.***

Pada suatu ketika, aku ada sedikit gangguan kesehatan, jadi aku pergi berobat ke sebuah poliklinik posyandu yang tidak jauh dari rumahku. Biasanya suamiku sendiri yang mengantar ke sana, tetapi karena sedang tugas keluar kota, jadi aku harus sendirian pergi menaiki angkot.

Saat aku turun dari angkot, nampak di ruang tunggu posyandu sudah penuh orang. Tetapi aku santai saja karena memang tak ada urusan yang menunggu sehingga harus buru-buru. Beberapa saat menunggu, aku kebelet pipis ingin ke toilet. Tanpa sengaja saat melewati toilet lelaki aku menengok ke sebuah toilet yang pintunya terbuka. Aku langsung tertegun dan sangat kaget menyaksikan seorang lelaki sedang berdiri kencing dan kulihat jelas pancurannya yang luar biasa gede dan panjang. Dalam keadaan belum tegang saja sudah nampak sebesar pisang tanduk. Aku tak mampu membayangkan sebesar apa kalau sudah ngaceng.

Aku masih tertegun saat lelaki itu menengok keluar dan melihat aku sedang mengamatinya. Entah sengaja atau tidak, dia menggoyang-goyangkan kemaluannya itu. Aku cepat melengos. Aku malu dikira sengaja untuk melihatinya. Dan aku juga malu pada diriku sendiri, sebagai istri ataupun wanita sebagaimana yang aku gambarkan di atas. Aku sendiri jadi resah.

Selama aku menunggu panggilan dari petugas poliklinik, aku tak mampu menghilangkan ingatanku pada apa yang kusaksikan. Mungkin aku tergoda. Bayangan akan seandainya batang sebesar itu menembus lubangku, terus mengejar pikiranku. Jantungku berdegup kencang dan cepat. Entah apa yang kumaui kini. Kenapa aku jadi begini? Bahkan kini aku mulai mencari-cari, siapa sebenarnya lelaki itu. Kutengok di antara pengunjung yang berada di ruang tunggu dan juga sepintas yang ada di teras, namun aku tak melihatnya lagi.

Bahkan sesampainya di rumah, khayalanku terus bergerak demikian jauh. Kubayangkan seandainya batang itu berdiri tegak dan berada di dekatnya hingga hidungku disergap aroma kelelakiannya sambil aku membayangkan menjilati batang tegak itu. Ahh.. Tanpa sengaja tanganku memilin ujung susu dari balik jilbab panjangku. Rasa gatal kurasakan pada ujung-ujungnya, begitu hebat.

Dua hari kemudian, Kudengar tukang pengumpul koran lewat depan rumahku.
"Koran bekas.. Korraann..." teriakannya yang khas.
Sudah lebih 3 bulan koran bekas numpuk di rumahku. Aku pikir kujual saja untuk mengurangi sampah di rumah. Tanpa banyak pikir lagi, kupanggil pengepul koran itu.
"Bang, tunggu, saya punya koran bekas..." sambil memasuki rumah untuk mengambilnya.
Namun ternyata koran sebanyak itu cukup berat. Kuputuskan, biar si Abang itu saja yang mengambilnya. Kusuruh dia masuk sambil sekalian bawa timbangannya.

Sesudah menimbangnya, dia memberikan 10ribu padaku untuk harga koran itu.
"Terima kasih, Bu.." Dan aahh.. Kurang ajar bener nih Abang.
Saat menyerahkan uang tangannya setengah meraih hendak meremas tanganku. Aku tarik secepatnya dan..aku kaget. Bukankah ini lelaki yang kulihat di poliklinik. Semula aku hendak marah, namun kini ragu. Hatiku bicara lain. Bukankah dia yang telah mampu membuat aku resah gelisah. Aku kini tertegun di hadapan pria itu. Tak terelakkan lagi mataku mencari-cari gundukan pada selangkangan.

"Haahh... rasanya saya pernah lihat Abang ini, deh," begitu aku berpura kelupaan.
Dia melihati aku dengan pandangannya yang tajam menusuk.
"Yaa.. Ibu yang di poliklinik itu, kan. yang nengok aku yang sedang kencing?"
Dan dengan penuh percaya diri yang disertai senyumannya yang mesum dia berbisik.
"Bu. Aku tahu kebanyakan perempuan suka dengan apa yang aku punya, nih..... Ibu mau lihat?"
Tanpa ragu lagi dibukanya celananya dan mengeluarkan isinya yang belum tegak berdiri.
"Nggak, Bang.. Cukup. Terima kasih.. Sudah tinggalkan saya.. Tinggalkan rumah ini," kataku panik, cemas, takut dan rasanya pengin nangis.

Tetapi perkataanku tidak dihiraukannya, tiba-tiba digenggamnya tanganku lalu disentuhkan dan digenggamkan ke batang kemaluannya yang kini telah bangkit membusung.
"Lihat dulu, Bu.. Jangan takut.. Aku nggak akan menyakiti ibu, koq," bisiknya.
"Lihat dulu neng..." sekali lagi diucapkannya.
Lalu dengan tangannya kemudian menekan bahuku untuk jongkok. Aku menjadi begitu penurut. Aku berjongkok, kusaksikan apa yang memang sangat ingin kusaksikan dalam 2 hari terakhir ini. Aku kini tengah berhadapan langsung dengan senjata seorang pria yang bukan suamiku, dan aku terangsang.

Kini aku bergetar. Jantungku berdegup-degup, mataku nanar menatap batang itu. Sungguh aku terpesona, benda itu sangat 'ngaceng' bak laras meriam. Aku menyaksikan batang yang dahsyat. Aku langsung lumpuh dan luluh. Ujung meriam itu mendekat, hingga menyentuh pipiku, hidungku dan bibirku. Yang kemudian kudengar adalah sepertinya 'suara jauh dari angkasa' yang penuh vibrasi,
"Jilat neng, isep batangku. Aku ingin merasakan isepan mulut neng"
Tangan kanannya menekan kepalaku dan tangan kirinya mengasongkan batangnya ke mulutku.

Bagaimana aku mampu mengelak sementara aku sendiri serasa lumpuh sendi-sendiku. Aku merasakan ada asin-asin di lidahku. Aku tersadar. Aku jadi sepenuhnya sadar namun segalanya tengah berlangsung. Aku tak mampu menghindar, mulutku sudah dijejali bongkol kepalanya yang menebar rasa asin itu. Lalu dengan kuat mendorong-dorong kepalaku dan menggoyangkan pinggulnya mendorong dan menarik batangnya ke mulutku. Hingga nyaris membuatku tersedak. Rasanya ujung batang itu telah merangsek maju mundur ke gerbang tenggorokanku. Kedutan-kedutan besar yang disertai semprotan-semprotan lendir kental yang hangat penuh muncrat ke mulutku.

Aku tahu persis, dia telah menumpahkan lendirnya ke mulutku. Dan kemudian yang tak kuduga sebelumnya adalah saat dia memencet hidungku hingga dengan megap-megap aku terpaksa menelan tuntas seluruh cairan kentalnya dan membasahi tenggorokanku. Aku masih tertegun dan setengah bengong oleh rasa yang memenuhi rongga mulutku saat dia menggelandangku ke kamar tidurku.

Dengan tenaga kelelakiannya diangkatnya tubuhku ke ranjang. Dilepasinya busanaku. Dia tarik hingga robek jubahku. Direnggut BH-ku seketika, dan tak ayal pula direnggut celana dalamku. Dia hanya menyisakan jilbab panjangku. Dengan senyuman birahi direbahkan lalu ditindihnya tubuh telanjangku.
"Neng, biar aku buat neng ketagihan..nikmati batangku neng. Mahal nih. Gak sembarang ibu-ibu bisa merasakan ini" katanya sambil meremasi bokongku sementara bibirnya nyosor melumat bibirku.

Sasaran berikutnya benar-benar membuatku menyerah. Dia kemot ujung susuku. Entah berapa lama dia isepin hingga meninggalkan cupang pada dadaku. Kemudian turun keperut, ke selangkangan, ke pahaku. Aduhh.. Ini sungguh sangat nikmat. Kenikmatan yang belum pernah aku dapatkan dari suamiku.

Ketika puncak nafsunya datang, dia naik menindih kembali tubuhku. Kurasakan batangnya menggosok selangkanganku. Aku sudah benar-benar terbius. Dorongan nafsuku sudah berada di ambangnya. Aku sudah tak mampu lagi menahannya. Kini desahan tertahan keluar dari mulutku.
"Tolong bang.. Ayo Bang.. Aku sudah gak tahan.. Enak bangeet.." kuraih batang besar itu dengan cepat kutuntun untuk menembus lubangku yang sudah sangat menantinya.

Masih dalam upaya penetrasi, dimana ujung batang dahsyat itu sedang menerpa bibir lubangku ketika aku meraih puncak pertamaku. Aku kembali mendesah tertahan. Kulampiaskan nafsuku. Kurajam pundaknya dengan cakarku. Rasanya lubangku mencengkeram, menjepit kepala kemaluan itu. Dengan cepat diterkamnya bibirku sambil mendesakkan batangnya dengan kuat ke lubangku. Begitu blezz.. Aku langsung diterpa puncak keduaku.

Dalam hujan keringat tubuhku dan tubuhnya, selama 2 jam aku mendapatkan kepuasan hingga 10 kali. Aku tak mungkin melupakan kenikmatan macam ini. Akupun tertidur puas sekaligus sangat lelah. Aku terbangun saat kupingku mendengar telpon berdering. Aku bangun dan lari untuk mengangkatnya.
"Mama apa kabar..? Sehat? Papa sedang berada di pusat kerajinan nih. Banyak barang unik disini. Pasti Mama senang. Mau dibeliin apa?," demikanlah kebiasaan suamiku kalau bertugas keluar kota. Dia selalu sempatkan mencari barang-barang kerajinan asli setempat.

Dia tahu aku sangat menyenangi barang-barang macam itu. Kasihan, sementara dia bekerja keras jauh dari rumahnya, dia telah kehilangan permatanya. Aku masih termangu hingga sore menggelap. Bibir dan dinding lubangku masih terasa pedih. Aku nggak tahu. Aku ini menyesal atau tidak atas selingkuh yang telah aku perbuat. Bahkan aku juga lupa Mas Dito mau belikan apa tadi, yang aku ingat hanyalah sekitar 10 kali aku telah meraih puncak dari permainan Abang pengumpul koran bekas tadi.

Tamat

0 Response to "Selingkuh Dengan Tukang Koran"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.