Akibat Film Biru

film biru - cerdes
Cerdes - Malam ini adalah malam sial bagiku, tadi siang Suci istriku pulang kampung, padahal baru tadi pagi menstruasi istriku berhenti, seharusnya malam ini aku dapat jatah. Makanya sepulang dari kantor aku sempat membeli film biru, pikirku lumayan untuk memuaskan batang ini.

Saat di depan rumah, hampir aku mengumpat keras, ketika ingat kalau DVD playerku masih di tukang service. Aku teringat mas Didi, tetangga sebelah rumahku, aku bisa pinjam punya dia, kembali aku bernafas lega. Sehabis mandi, segera aku bertandang ke rumah Didi.
“Mas Didi…mas” panggilku dari luar pagar.
Agak lama kulihat tirai sedikit tersingkap, ada yang mengintip dari dalam.
“Bimo…ayo masuk pagar tidak dikunci?” seru wanita yang sangat aku kenal, mbak Ani istri mas Didi keluar dari pintu dengan pakaian tidurnya dilapisi sweater.
“Lho mas Didi mana mbak…sudah tidur? waduh jadi ganggu nih.” kataku agak kikuk ketika aku sudah duduk di ruang tamu dan mas Didi tidak muncul.
“Mas Didi sedang tugas ke luar kota Bim eh mau minum apa nih?”

Melihat mbak Ani dengan pakaian tidur yang tipis memperlihatkan bayangan celana g-stringya, membuatku merasa kikuk duduk berlama-lama di dalam rumahnya. Dan segera ku utarakan maksud kedatanganku dengan harapan cepat keluar dari rumahnya.
“Waah..gak usah repot-repot mbak, aku cuma mau pinjem DVD player aja kalo bisa” kataku.
“Ada kok Bim, bentar aku ambilin yah” katanya
“Ada apa tiba-tiba minjam DVD player, mau nonton film jorok ya?” Tebak mbak Ani

Karena DVD player berada dibawah tv, jadi mbak Ani harus berlutut membelakangiku di lantai mencabuti kabel, sehingga pantat montok yang memakai g-string itu ngepres di dasternya yang tipis, terlihat pantatnya bagaikan tanpa celana dalam. Mau tidak mau kejantananku yang sudah seminggu tidak ketemu patnernya merespon positif mulai menggeliat bangun.

“Eeehh…anu…buat nonton video pengantin temen yang baru diedit” jawabku sempat gagap.
“Alah…tidak usah ngeleslah, iya juga gapapa, udah gede ini ha..ha.” potong mbak Ani sambil menunduk meletakkan DVD player di meja, mataku langsung menangkap 2 gundukan montok putih mulus tanpa lapisan dari sela-sela sweaternya di dalam daster yang memang berleher rendah.

“Ha…ha…mbak Ani, nonton film begituan sendirian tidak seru, kalo ditemenin mbak Ani baru seru” jawabku mulai terbawa gaya sembarangannya mbak Ani.
“Bener ya Bim? aku belom pernah nonton yang begituan, soalnya mas Didi tidak pernah ngasih, kamu ada kan filmnya?” cerocos mbak Ani tanpa bisa kujawab.
“Ya udah sana kamu duluan, aku ngunciin rumah dulu”

Akupun pulang sambil nenteng DVD player milik mbak Ani, pikiranku jadi kacau, karena mbak Ani kepengen ikut nonton film biru bersamaku. Sampai dirumah sambil masangin kabel-kabel ke monitor, aku bingung sendiri, aku bakal mati gaya, nonton film biru berduaan dengan istri orang.

“Hei aku datang! ko malah ngelamun?” Suara mbak Ani membuyarkan lamunanku.
Mbak Ani datang dengan membawa tentengan berupa beberapa minuman kaleng dan makanan kecil.
“Busyet bekelnya banyak bener? Mau sampe pagi?” seruku untuk menetralisir kebingunganku.
“Waduh…aku pikir mbak Ani tadi berganti baju yang lebih pantas, ternyata masih menggunakan baju tidur yang sama, ini namanya sial atau keberuntungan siih?” benakku.
“Hehehe.. sebenarnya tadi sebelum kamu datang, aku takut sendirian di rumah, habisnya sepi banget, makanya aku bawa banyak bekel, ntar kita ngobrol aja sampe pagi, setuju?” celoteh mbak Ani.

“Sekarang mau nonton yang mana dulu? silakan mbak Ani pilih” kataku sambil menyodorkan segepok piringan DVD lengkap dengan sampulnya.
Pilihan mbak Ani rupanya tepat, pilihan filmnya masih yang semi, jadi sewaktu nonton kami masih bisa sambil santai bercanda mengkomentari adegan demi adegan, walaupun 2 jam kemudian setelah film pertama selesai aku lihat wajah mbak Ani agak memerah dan dadanya yang montok bergerak naik turun.

“Mmm…apa sih yang dikuatirkan mas Didi dengan aku nonton film beginian, kalo beginian sih tidak begitu ngaruh” kata mbak Ani sambil milih-milih lagi film yang akan ditonton berikutnya.
“Yang bener aja deh mbak? kalo nontonnya sama suami orang?” Jawabku menggodanya..
“Ha…ha…suami Suci sih anak kemaren sore mana berani macem-macem?” sahutnya setengah menantang dengan bibir manisnya dicibirkan padaku.***

“Bim…asyik banget tuh mereka ya?” Gumam mbak Ani saat melihat adegan 69.
“Emang kamu belum pernah mbak?” tanyaku ceplas-ceplos.
“Eeeh…enggak…no comment.. sst diem aja ya sekarang” jawab mbak Ani sedikit gagap.
Benar saja suasana jadi hening, apalagi volume film sengaja dikecilin agar tidak kedengaran dari luar. Kini yang aku dengar nafas mbak Ani yang tidak teratur, sedangkan aku juga sudah terhanyut dengan adegan di monitor karena memang film kali ini full dengan adengan permainan ranjang yang menghanyutkan. Celana pendekku sudah menggembung, batangku menegang kencang. Kutumpangkan bantalan kursi agar tidak terlihat oleh mbak Ani.

Beberapa kali mbak Ani menghela nafasnya, dia mulai gelisah, beberapa kali merubah posisi duduknya. Mbak Ani sedang menahan gejolak nafsunya, wajah yang cantik berkulit putih ini makin memerah. Satu setengah jam berlalu, kegelisahannya semakin hebat dan hilang sudah komentar-komentar konyolnya.

Pada suatu saat menjelang film selesai, mata kami bertemu pandang.
“Bim…” suaranya mendesah memanggil namaku.
“Ya mbak…” jawabku tak kalah lirih.
Dalam pandanganku saat itu, Ani adalah wanita yang sangat menggiurkan sedang menggelar nafsunya. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu tangan kami sudah saling menggenggam, Wajah kami saling mendekat, hembusan nafasnya terasa hangat dihidungku, matanya menatapku penuh makna. Kuberanikan diriku untuk mengulum bibir indah yang setengah terbuka. Kulumanku dibalasnya, sejenak bibir kami berpagutan mesra, sampe akhirnya dia melepaskan pagutan bibirnya dengan nafas terengah-engah.

“Aah Bimo…jangan diteruskan…bahaya” katanya sambil berusaha melepaskan rengkuhanku
Tak akan kulepaskan wanita cantik ini, kepalang tanggung, pikirku.
“Kenapa mba? apanya yang bahaya?” sahutku sambil mendaratkan kecupan bibirku di lehernya.
Dia meronta-ronta kecil berusaha menghindari kenakalan bibirku, sementara tanganku tengah meremasi susunya yang ternyata memang tak mengenakan BH. Beberapa kali tangannya menepiskan tanganku dari dadanya, tapi segera tanganku kembali ke tempat semula, sampai sesaat kemudian perlawanannya berhenti dengan sendirinya, berubah dengan desah nafas memburu, serangankupun kukendorkan, kuperlembut remasan tanganku mengelus kulit susunya.

“Bimo…aku ngga tahaan..” desahnya di telingaku lalu menjilati daun telingaku.
“Ikuti aja mba…nikmati aja..” bisikku mesra sambil menarik tali daster yang tersimpul di pundaknya.
Terlihatlah kesempurnaan bukit montok di dadanya, begitu mulus dengan ujung mungil berwarna merah kecoklatan. Kudaratkan jilatan lidahku pada benda itu, tubuh mbak Ani menggeliat.
“Sshh…aahh…Bim...aku takut…mmhh” desahnya
Tak kupedulikan lagi perkataan mbak Ani, nafsuku sudah di ubun-ubun.

Desahan demi desahan keluar dari mulut mbak Ani, geliatan tubuhnya sudah menunjukkan kepasrahannya, tangannya mulai melingkar di leherku, rambutku digerumasinya dan membenamkannya ke susunya.
“Duh…ampunn…” desahnya lirih.
Mbak Ani mengerang panjang, kepalanya mendongak ketika daerah sensitifnya kujilati.
“Oww…Bimo…jangaan…aku tidak mau” bisiknya sambil tangannya menahan daguku, ketika kukecupi gundukan kemaluannya dari balik celana g-stringnya yang sudah tampak bercak basah.
“Kenapa mbak..?” tanyaku lembut..
“Sshh…aku belum..pernah…malu” jawab mbak Ani, sambil berusaha menarik tubuhku ke atas.
“Busyeet jadi diapain aja tubuh indah ini sama mas Didi?” dalam benakku.

Selanjutnya g-string itu kusingkap ke samping, sebuah gundukan kecil dengan rambut kemaluan yang tidak begitu lebat terpampang di depan wajahku. Sebuah bentuk luar lubang wanita yang masih orisinil, indah sekali, tak ayal lagi lidahku terjulur menyapu dan membelah lubang indah itu.
“Aahh…Bimo…kamu bandel…” Erang mbak Ani
Tubuh semakin menggeliat, kakinya semakin terkangkang lebar, rambutku habis diacak-acaknya, hal ini membuat aku semakin kesetanan, kusedot lubangnya dengan keras dan sesekali lidahku menyelip memasuki liangnya, dan sesekali kukulum kacangnya yang sudah mengeras.

“Bimo…ampun…nikmat banget…” mbak Ani merintih-rintih dengan suara seperti orang mau menangis, pinggulnya bergerak-gerak merespon ulah lidah dan bibirku di lubangnya.
“Oowh…Bim…sudah aku tidak tahan…” Suara mbak Ani semakin memilukan.
Tiba-tiba tubuh mbak Ani bangkit dan mendorong lembut tubuhku yang tengah bersimpuh di karpet tebal kuikuti saja sehingga tubuhku telentang di karpet sedangkan tubuh mbak Ani mengikuti arah rebah tubuhku sehingga tubuhku kini ditindihnya, payudaranya yang montok dan kenyal itu kini menempel ketat di dadaku. Lalu tangannya meraih batangku, dituntunnya ke lubangnya.
“Bimo…ayo dorong, masukin cepat” perintahnya tak sabaran
Ku turuti permintaanya, kudorong batangku perlahan-lahan.
“Ouh…pelan Bim…nyeri…” keluhnya sambil memepererat pelukannya.
Kurasakan lubang ibu muda ini sempit sekali ketika batangku berusaha menerobosnya. Tapi dia sangat bersemangat untuk menuntaskan nafsunya, digeal-geolkannya pinggulnya…akhirnya amblaslah seluruh batangku tertanam di lubangnya yang sempit.
“Sshh…gila…gede banget punya kamu”

Tubuh sintal mbak Ani ambruk ke tubuhku ketika penetrasi itu berhasil. Kudiamkan sejenak tubuh sintal itu diam tak bergerak di atas tubuhku dengan nafas memburu tak beraturan, besutan-besutan kecil kurasakan ketika mbak Ani mulai menggerakkan pinggulnya dan gerakan itu semakin keras dan besutan-besutan itu semakin nikmat kurasakan. Aku tidak bisa menahan diri lagi untuk mengcounternya, aku mulai mengayun batangku..

“Bimo…oohh…sshh” hanya desahan itu yang sering terucap dari mulut mbak Ani yang dengan gemulai menarikan pinggulnya. Sesekali bibir kami berpagutan liar, remasan gemas tanganku pada susu yang terayun-ayun itu seakan tak mau lepas.
“Bimo…sshh…aku hampir…oohh..” gerakan tubuh mbak Ani semakin tak beraturan dan rasanya akupun tidak perlu menahan bobolnya tanggul lendirku untuk lebih lama…
“Tunggu mba..” kataku sambil mempercepat genjotan batangku.
Dan bagaikan dikomandoin tubuh kami serentak meregang.
“Aah.. Bimo…ampun…”
Tubuh mbak Ani menggelepar hebat di atas tubuhku, demikian juga dengan ku, dan meledaklah cairan cinta kami dan bersatu dalam lubang mbak Ani. Sesaat kemudian tubuh mbak Ani lengser di sampingku.

Jam sudah menunjukkan angka 11.30, tubuhku tetap rebah telentang, sedangkan tubuh mbak Ani tergolek disampingku. Kupeluk tubuh sintal mbak Ani, Wajahnya ditengadahkan ke wajahku. Kupagut bibirnya dan disambut dengan sangat bernafsu dan semakin agresif. Batangku rupanya benar-benar membuat ibu muda ini gemas setengah mati, tak hentinya tangannya mengocok dan meremas-remasnya..
“Bimo aku pengen “ini” lagi..” bisiknya manja sambil meremas batangku.
“Emang bisa..?” sahutku menggoda.
“Boleh engga..?” rajuknya.
“Iya…habisin deh” jawabku sambil kuremas pantat bulatnya.

Dengan segera mbak Ani melumat senjataku, tubuhku dibuat melintir dan menggeliat merasakan permainan lidah dan lembutnya bibir mbak Ani pada batangku, kadang dengan nekadnya batangku ditanamnya dalam-dalam sampai ujung kerongkongannya, sampai mbak Ani tersedak..
“Eeii.. jangan diabisin mbaa..” candaku.
“Gemes aku Bim, punya kamu panjang banget, gede lagi” bisiknya manja.

Dan permainan itupun terus berlanjut sampai pagi, berkali-kali kami mencapai puncak kenikmatan dengan berbagai gaya dan di berbagai sudut dirumahku. Saat kami mau membersihkan diri, dituntunnya tubuhku dengan cara menggenggam lembut batangku sampai kamar mandi, dan kembali kami mereguk nikmat. Selesai mandi, kamipun berpakaian kembali.

Saat mbak Ani akan kembali kerumahnya, aku bermaksud mengantarnya sampai pintu, aku mengikutinya dari belakang, dari belakang bisa kulihat pinggulnya yang bulat dengan pantat yang montok berayun dihadapanku, membuat batangku kembali mengeras. Tanpa sepengetahuannya ku keluarkan senjataku. Saat itu dia sudah membuka pintu rumahku, langsung kupeluk kasar tubuhnya dari belakang seakan-akan aku sedang memaksanya, lalu kusingkap dasternya, kupinggirnya g-stringnya lalu dengan sekali sentakan ku cobloskan batangku ke lubangnya dari belakang. Sambil meremas pantatnya, ku genjot batangku dengan cepat dan agak kasar ke dalam lubangnya.

Ternyata sensasi yang tidak biasa seperti ini membuat kami segera mencapai puncak, hanya beberapa menit lendir kamipun bersatu dalam lubang mbak Ani. Ku cabut batangku, tampak dari lubangnya menetes-netes lendir kenikmatan itu dan terjatuh ke lantai. Mbak Ani membalikkan badannya dan langsung memelukku, dan meremas batangku.
“Ini mu memang gak ada matinya ya” bisiknya manja sambil mengocok batangku.
“Kok nekat banget sih, untung masih sepi, kalo ngak bisa kelihatan orang, bisa malu kita” lanjutnya lagi.
Aku hanya tersenyum dan mengecup bibirnya.

Tamat

Random Post

Trending Topik