Aku, Ibu Dan Adikku

Aku, Ibu Dan Adikku - cerdes
Ibuku adalah seorang janda cantik dengan bentuk tubuh yang molek. Usianya 38 tahun dan adikku masih sekolah SMP, namanya Ayu. Seorang gadis periang, cantik dan imut.

Suatu malam ketika aku keluar dari kamarku untuk kekamar mandi, aku melewati kamar ibuku. Astaga, Ibuku sedang tidur menyamping dengan dasternya yang tersingkap bawahannya, sehingga aku bisa melihat pantatnya yang montok dengan CDnya yang tipis dan pahanya yang putih mulus mengkilat. Aku mulai berpikiran jorok.

Aku berdiri di pintu kamarnya, memang pintunya sengaja dibuka, sebab saat itu Ibuku sedang sakit, jadi jika sewaktu-waktu ia memanggilku aku bisa dengar. Entah setan mana yang menguasaiku, akupun mengocok punyaku sambil melihat tubuh Ibuku. Aku mengocok semakin cepat, dan tiba-tiba lendirku muncrat, berceceran di lantai, buru-buru aku bersihkan.

Entah kenapa aku berpikiran seperti itu. Namun pikiran jelekku nggak sampai di situ saja. Esoknya, saat Ayu sudah pergi ke sekolah. Ketika Ibuku selesai mandi, badannya hanya ditutupin dengan handuk. Dia masuk ke kamar. Akupun ikut masuk ke kamarnya. Ibuku bingung melihat tingkahku.
“Ada apa Gun?" tanya ibuku.
“Bu, boleh Gun lihat lagi dada ibu?”, tanyaku to the point.
“Buat apa Gun?” kata Ibuku.
“Sebentar saja bu, boleh ya?”, tanyaku.
“Baiklah”, katanya sambil membuka handuknya dan tampaklah bukit kembar itu.
Aku memegang ujung susunya, tiba-tiba aku menyusu di sana.
“Oh…Gun…jangan Gun…” katanya meronta.

Aku pun menciumi perutnya, hingga ke lubangnya. Ibuku terus meronta. Aku tak peduli, nafsuku sudah di ubun-ubun. Ternyata perlakuanku tersebut membuat Ibuku juga nafsu. Ia pun secara tak sengaja membuka pahanya, tongkolku sudah siap, dan aku sudah ada di atas ibuku. Kedua onderdil bertemu.
“Maaf, bu, tapi Gun tak kuasa menahan ini”, kataku lagi.
Kugesek-gesekkan batangku di bibir lubangnya. Geli dan enak. Aku senggol-senggol kacangnya, ibuku memejamkan mata, ia menggelinjang, setiap kali kepala batangku menyentuhnya. Lalu akupun memasukkannya. Tak perlu tenaga banyak untuk bisa masuk. Sensasinya luar biasa.

Aku tak peduli ia ibuku atau bukan sekarang. Aku sudah menggenjotnya naik turun. Pinggulku bergerak maju mundur. Kurasakan lubang ibuku yang masih seret menjepit tongkolku yang panjang dan besar itu. Tiba-tiba kaki Ibuku mengejang dan menjepit pinggangku.
“Ohh…terus Gun…cepat selesaikan, cepat Gun…”, kata ibuku.
Ia mencengkram sprei tempat tidur. Ia menggigit bibirnya. Aku percepat goyanganku.

Setelah beberapa saat, Ibuku mendesah dan terasa denyutan di lubangnya, ia sudah keluar, begitu juga denganku, lendirku muncrat di dalam rahimnya. Aku benamkan dalam-dalam batangku. Hingga akhirnya kami lemas, lalu dengan perlahan kucabut batangku.
“Maafkan aku bu”, kataku.
Aku berbaring di samping ibuku. Ibuku memukulkan tangannya ke dadaku.
“Kamu bajingan!!” Ibuku lalu menangis.
Ia membelakangiku, butuh waktu lama untuk dirinya bisa diam.

Kurang lebih 30 menit kemudian, setanpun hinggap lagi di otakku, nafsuku bangkit lagi. Aku mempersiapkan batangku yang tegang lagi. Aku mendekatkan batangku ke pantatnya, aku sentuh pinggulnya, lalu aku masukkan batangku ke lubangnya. Nggak perlu susah-susah dan Bless…
”Aah…Gun, kamu mau apa lagi? Tidak cukupkah kamu menyiksa ibu?”
“Gun, tak tahan nih bu”, kataku.

Posisiku kini dari samping. Pantatnya yang montok beradu dengan selangkanganku. Nikmat sekali. Tak butuh waktu lama untuk bisa keluar lagi di dalam rahimnya. Ketika mencapai puncak aku memeluk ibuku. Setelah itu aku benar-benar memohon maaf.
“Maafkan Gun bu...”, kataku.
Lalu ibuku menyuruhku untuk keluar kamar. Aku pun keluar. Aku kembali ke kamarku dan memikirkan apa yang terjadi barusan. Aku sudah menjadi anak durhaka.

Ayupun pulang. Ibuku bertingkah seperti biasa. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tapi tatapan kami mempunyai arti. Antara malu, takut, senang dan bingung.***

Esoknya, hari minggu. Ibuku tampak senang. Kesehatannya mulai pulih. Ia bisa berjalan normal. Ia seolah melupakan kejadian kemarin. Apakah mungkin gara-gara apa yang aku lakukan kemarin? Bisa jadi.

Malamnya, ibuku ingin tidur di kamarku. Entah kenapa ia ingin begitu. Aku pun mengiyakannya. Pukul 12 malam. Ketika Ayu sudah tidur. Aku dan Ibu sudah seranjang.
“Sepertinya kesehatan ibu mulai pulih akibat itu Gun”, katanya.
“Gun sangat menyesal melakukannya kemarin bu”, kataku.
Ibu bangkit, lalu ia menurunkan celana pendekku. Tanpa babibu, ia sudah mengulum batangku. Aku kaget mendapatkan sensasi itu. Tidak ada rasa penyesalan seperti kemarin. Ia sudah mempermainkan batangku dengan ganas. Akupun tak menyia-nyiakan ini, aku segera melepas bajuku, lalu bajunya.

Kini kami sudah telanjang, dan ia masih mengoralku. Aku berbaring menikmati sensasi ini. Sedotannya benar-benar mantap. Puas menyedot batangku, Ibuku menaiki badanku, lalu berjongkok dan menuntun batangku yang sudah keras ke lubangnya. Setelah masuk, dia pun bergerak naik turun. Makin lama makin cepat gerakannya. Setelah beberapa lama, rasanya lendirku sudah berkumpul di ujung batangku dan ternyata ibuku juga mau keluar. Ia pun makin mempercepat gerakannya.
“Oh…anak mama yang nakal. Nikmat banget. Ibu mau keluar, basahi rahim ibu, hamili ibu nak”

Aku pun keluar dan langsung bangkit memeluk ibuku. Lubangnya sangat basah, begitu juga punyaku. Lendir itu masuk ke rahimnya banyak sekali. Kami berpandangan sesaat, lalu kami berciuman. Kamipun ambruk sambil berpelukan. Kami tertidur.***

Sejak malam itu, hubunganku dan ibuku sendiri bak suami istri. Aku tak tahu bagaimana kami menyebutnya. Hampir setiap hari kami melakukannya dengan gaya yang berbeda-beda dan kesehatan ibuku makin membaik dari hari ke hari.

Lambat laun hal itu pun tercium oleh Ayu. Suatu saat ketika ibu tidur lebih awal, sehabis main denganku. Aku nonton tv. Di ruang tengah tampak Ayu juga ada di sana. Aku duduk berdekatan.
“Aku tahu kakak gituan sama ibu”, kata Ayu tiba-tiba.
Aku kaget mendengar perkataan Ayu.
“Gituan gimana?”, tanyaku pura-pura tidak mengerti.
“Alaah, nggak usah sok blo'on deh kak. Kakak main ama ibu kan?”, tanyanya.
“Kalau iya kenapa?”, tanyaku menantang.
“Asal ibu bahagia aja, Ayu senang. Walau aneh rasanya kakak yang melakukan itu ama ibu”
“Aku melakukan itu juga untuk kesembuhan ibu, semakin kakak melakukannya ibu semakin membaikkan?”
“Iya juga sih, ibu makin membaik”.

Entah bagaimana aku juga ingin begituan dengan adikku. Melihat dia hanya pakai celana pendek, bahkan aku bisa melihat ujung susunya yang menonjol. Kebiasaan dia kalau di rumah tak pakai BH. Aku keluarkan batangku. Dan mengurutnya.
“Kakak ngapain? Jorok ih”, katanya.
“Yeee…suka-suka dong”, kataku sambil mengocok batangku perlahan.
“Kamu boleh koq sentuh”
“Nggak ah..”, katanya.
“Sentuh!!”, aku membentaknya.
Adikku terkejut dan tiba-tiba spontan menyentuh batangku.
“Nah, gitu…sekarang kocok!!” kataku.
“Udah ya kak, jangan deh”, katanya.
“Kocok!”, kataku sedikit membentak.
Ia menurut. Aku tahu jantungnya berdegup kencang. Ia mengocoknya terus, tak beraturan. Lalu aku merangkulnya dan menciumnya. Ia kaget dan mencoba melepaskan diri, tapi aku lebih sigap.

Akupun mencium bibirnya, lidahku menari-nari di dalam mulutnya, ia tampak kewalahan. Aku singkap kaosnya dan kuremas dadanya yang montok itu, lalu aku menyusu padanya. Aku lucuti pakaiannya, ia pun meronta ingin melepaskan diri, tapi sudah terlambat, aku sudah menduduki perutnya, ia tak bisa ke mana-mana. Aku buka pakaianku. Aku julurkan batangku ke mulutnya.
“Ayo isep!”, kataku.
“Nggak ah kak, koq jadi gini sih”, katanya.
“Isep!”, kataku.
Ia nurut. dibukanya mulutnya dan aku jambak rambutnya. Kugerakkan kepalanya maju mundur.

Aku sudahi permainan itu, sekarang aku lebih mengincar lubangnya. Segera, aku berbalik. Aku menjilati lubangnya. Lidahku menari-nari di dalamnya. Sementara adikku mengulum batangku. Iapun mengerang keras saat lidahku menjilati kacangnya, tanpa sadar dia menyedot batangku kuat sekali, agak sakit tapi nikmat.

Setelah puas, aku pun menelentangkan badannya, kubuka pahanya lebar-lebar, lubang merah muda itupun tampak merekah, membuatku makin nafsu untuk memasukkan batangku ke dalamnya. Kupesiapkan batangku, ku dekatkan ke lubangnya, lalu menekannya dengan perlahan, sulit sekali. Aku tarik lagi, aku dorong lagi, perlahan tapi pasti batangku pun menerobos dan merobek selaput sucinya, lubangnya terasa berkedut-kedut meremas punyaku.
“Kaakk…sakit kaak…”, katanya.
“Nanti juga enak koq”, kataku.

Setelah lubangnya terbiasa dengan batangku, ku genjot dia dengan cepat. Ayu memekik tertahan. Nafasnya memburu. Lubangnya berdenyut-denyut. Sembari aku menggoyang aku menciumi bibirnya. Setelah beberapa lama, akupun tak kuasa ingin keluar.
“Ayu, kakak mau keluarr…ahh...”
Dan lendirku muncrat dengan energi penuh. Adikku merangkulku. Agak lama kami berpelukan dan berguling di karpet. Sampai kemudian aku cabut punyaku. Lendir dan noda merah keluar dari lubangnya.

Malam itu aku membopong adikku ke kamarnya. Ia menangis.
“Maafkan kakak ya, kalau kau mau marah, kakak ada di sini” kataku.
“Percuma Ayu marah, kakak sudah menodaiku”, katanya.
“Kakak harus janji, selain Ibu dan Ayu, kakak nggak boleh dengan wanita lain!!”
“Baiklah kakak berjanji”, kataku.
“Mulai sekarang, Ayu ingin jadi istri kakak”, katanya.

Hari-hariku main dengan mereka berdua tak akan pernah usai. Dan anehnya setiap saat aku ingin sekali melakukannya dengan mereka. Ibuku yang suka dan mahir mengulum batangku, ditambah Ayu yang lubangnya sempit membuatku ingin setiap hari menggaulinya.

Tamat

0 Response to "Aku, Ibu Dan Adikku"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.