Kesepian Uni

Suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tuti kakak tertua istriku. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Uni Tuti adalah janda berusia 40 tahun. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai dan terlihat Anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius.

Selama di rumah, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari.

Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan dan pulangnya bisa jemput istriku. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam.

Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi, aku sendirian dirumah menyeruput kopi. Kami berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi, aku kembali tidur-tiduran di kamarku. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tuti sangat menarik perhatianku. Jeleknya aku, mulai keluar. Aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan.

Kuatur rencana untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci.

Aku berlalu menuju kamarku dan segera bertelanjang bulat dengan maksud untuk mengejutkan Uni. Pintu kamar kubuka lebar-lebar. Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang berdiri tegak.

Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari balik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti sudah melihatku.

Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk, sepasang sepatu kini berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang.

“E..ee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah ingin menutup pintu.
Aku tidak berusaha menutup senjataku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya. Dengan tenangnya kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.
“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumah ini,” kataku.
Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata
“i…iya , tidak apa-apa….” Dia langsung masuk ke kamarnya.

Kemudian dengan memakai celana pendek tanpa CD dan kaos oblong kuketok pintu kamar Uni.
“Ada apa Adi,” ujar Uni setelah membuka pintu. Dia tidak berani menatapku.
“Uni, maafkan Adi ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan.
“Nggap apa-apa, cuma Uni malu” balasnya tanpa mau menatapku.
“Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.
“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan.
Aku jadi nggak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknya seraya menenangkannya.
“Sudahlah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.”

Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya. Ketika kurasa sudah agak tenang. Kutuntun tangannya dan kupeluk Uni sudah berdiri didepanku. Lama dan erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan di dadaku. Susunya yang kencang serasa menempel di dadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tanganku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.
“Jangan Di…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku.
Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal itu. Dan usaha kedua, Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Kucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada ujung susu sebelah kiri.

Pilinan jariku di susunya membuat nafsunya naik, nafasnya mulai memburu tapi tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya. Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjangnya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya, Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku. Uni masih diam.

Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher, perlahan kusapu dadanya, susunya kulumat, turun lagi kebawah, kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai ke ujung jempol kaki. Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Matanya terpejam menikmati sentuhan di tiap jengkal tubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di lubang dan kacangnya.
”Ahhhh…” Uni tiba-tiba berteriak.
“Kenapa Uni…Sakit?,” tanyaku.
Uni hanya menggeleng. Dan jilatanku pada lubangnya pun kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung.
”Ayo Adi….jangan siksa aku…ayo tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya.

Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung ku naiki tubuhnya dan kutusukkan juniorku kelobang surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak ke dalam. Seret dan nikmat. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, Uni semakin menggelinjang.

Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme, gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta, menarik segala apa yang bisa ditariknya. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang.
“Ahhhh…” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak.

Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku.
“Jangan keluarin di dalam….aku lagi subur” suaranya tersengal-sengal.
Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya.
“Baik Uni cantik, Adi keluarin diluar ya” balasku
Kembali kumasukkan Juniorku ke lubangnya yang sempat terlepas. Kupompa pinggulku. Tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.

Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari lubang Uni dan segera batangku menembakkan pelurunya. Sekujur tubuh Uni ketumpahan lendirku. Bahkan wajahnyapun belepotan dengan lendirku. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Uni bangkit mengambil tisu dan menyeka badan serta mukanya.
“Adi…, jujur Uni belum pernah merasakan yang seperti ini” kata Uni sambil rebahan disampingku.

Dengan persetujuan Uni, aku menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukannya. Dan permainan Uni pun berkembang menjadi sangat buas.

Tamat

0 Response to "Kesepian Uni"

Poskan Komentar

Komentar SPAM / berkomentar hal yang sama secara berulang-ulang sangat dilarang. Komentar SPAM akan segera hapus dan ditandai sebagai SPAM.